Menilik Kampanye “Nomor Delapan”

Nomor delapan yang saya maksudkan di atas bukanlah nomor delapan dalam permainan bola, nomor yang amat sakral untuk melainkan nomor urut delapan pemilu 2009 besok. Tentu saja pemiliknya pun bukan manusia, melainkan sebuah partai politik (parpol).

Saya mengatakan “nomor delapan” ada dimana-mana, mengingat fenomena segala macam atribut parpol nomor delapan ini yang tersebar dimana-mana. Umbul-umbul dan bendera misalnya, semenjak saya berada di Kediri (Jatim) hingga harus kembali ke Magelang. Atribut-atribut tersebut ada di sepanjang perjalanan. Luar biasa memang, mengingat tidak ada partai manapun yang dapat melakukannya. Bahkan, partai raksasa sekelas “moncong putih” maupun “pohon beringin” pun saya rasa tak mampu menandinginya.

Media massa pun tak luput untuk “diinvasi”. Bisa dilihat bagaimana wacana pemimpin muda atau yang dalam bahasa “nomor delapan” menjadi pemimpin balita (bawah lima puluh tahun) begitu deras disuarakan ke publik. Hingga, tak terelakkan bentrok wacana pun terjadi antara pemimpin “nomor delapan” dengan ibu pemimpin “moncong putih”. Ibu tersebut pun bahkan dengan keras menantang para pemimpin muda untuk maju, bukan sekedar wacana di media semata. Apapun itu, di satu sisi konfrontasi ini justru menguntungkan “nomor delapan” yang makin berkibar tidak hanya popularitasnya, namun juga wacananya.

Mohon maaf, bukan berarti ketika saya berbicara tentang gencarnya “nomor delapan” saya adalah kadernya. Bukan ! Bukan sama sekali, saya adalah orang yang independen untuk masalah parpol. Di sini, saya hanya ingin membaca fenomena begitu menggebu-gebunya semangat “nomor delapan” untuk menyambut pemilu 2009. Semangat yang kini bahkan menenggelamkan semangat serupa dari partai-partai lain.

Ini baru sekedar media. Saya belum menambahkan lagi betapa solidnya kaderisasi “nomor delapan” di kalangan kaum muda sebagai konstituen mayornya. Mungkin, pola pendidikan politik sebaik ini belum bisa disaingi oleh parpol-parpol lain.

Yang harus digaris bawahi adalah bahwa artikel ini tidak bertendensi sinis akan manuver-manuver “nomor delapan”. Karena memang saat ini kampanye telah dilegalkan, apa salahnya dengan terus menerus berkampanye? Malah bagus kan? Saya malah concern dengan pertanyaan kemana semangat parpol lain untuk berkampanye.

Mentalitas SKS

SKS yang saya maksudkan adalah sistem kebut semalam. Tahu kan? Hal inilah yang saya takutkan dari parpol-parpol lain, yaitu menjadikan kampanye hanya sebagai sebuah kegiatan instan. Mengejar waktu sesingkat mungkin untuk mencari dukungan dari khalayak dengan janji-janji manis. Janji tersebut diobral semanis dan sekuat mungkin, namun sifatnya hanya instan dan kilat. Karena saat terpilih nantinya, janji tersebut akan dengan mudah dilupakan. Maka dari itu, konsep kampanye semacam inilah yang tidak berbeda jauh dengan belajar ala SKS, tidak akan bertahan lama efeknya.

Maka dari itu, mau kampanye beneran? Jangan instan dunk ! Mari pikirkan kepentingan rakyat untuk jangka panjang…

2 thoughts on “Menilik Kampanye “Nomor Delapan”

  1. tampaknya SKS tidak bisa dihindari.

  2. Wah setuju banget dalam menyamakan kampanye dengan Sistem Kebut Semalam..
    Tapi sepertinya memang seperti itu keadaannya..

    Iya, sepertinya kalau ilmu saja sulit dipelihara dengan SKS, apalagi masyarakat??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s