Masakan Jawa: Lezatnya Tiada Dua

Berakhir sudah petualanganku di Pare, Kediri. Terhitung sejak tiba hingga pulang hari Sabtu kemarin (02/08), praktis tiga minggu ku habiskan di sana untuk belajar Bahasa Inggris. Sebenarnya, masih ada jatah seminggu untuk belajar. Namun, berhubung Mas Chanief, Sekretaris IMM Cabang BSKM, keburu mengejar-ngejarku untuk mengikuti Pelatihan Administrasi yang diadakan oleh DPD IMM Yogyakarta. Maka sebagai “wong cilik”, mau ndak mau akhirnya aku pun turun gunung untuk mengikuti kegiatan ini.

Salah satu hal yang ku syukuri selepas kembali ke Yogyakarta, adalah makanan. Ya, seperti yang pernah ku ceritakan sebelelumnya, aku memang mengalami problem tersendiri terhadap makanan di Pare. Diriku begitu tersiksa di sana (terlalu hiperbolis), mengingat di sana hanya ada pecel, pecel dan pecel. *ugh* Padahal, pecel adalah musuh besarku, atau sederhananya merupakan makanan yang tak ku inginkan (Oh andai, tak ada makanan bernama pecel di dunia ini! hehe). Belum lagi, kalaupun ada sayur. Sayur yang ada rasanya hanya asin (sayur kok asin?) bercampur pedes. Suatu racikan masakan yang nyatanya ditolak perutku. Itulah kenapa, entah selama tiga minggu di sana perutku selalu terasa mulas saat makan.

Maka dari itu, sekembalinya ke Yogya, lega pula diriku. Kini, berbagai makanan yang begitu cocok di lidah dan perutku begitu mudah didapatkan, Alhamdulillah. Mulai dari gudeg (Subhanallah, how delicious it is!), oseng-oseng sayur (syurp…), nasi kucing (Angkringan’s favorite food) dan berbagai makanan khas Jawa lain yang rasanya manis lagi lezat. Kenapa makanan Jawa begitu cocok di lidahku padahal kerap kali aku berpindah-pindah ke kota. Aku baru sadar bahwa kemanapun aku pindah, entah di Kupang (NTT), Sukoharjo, Magelang hingga Yogyakarta, aku selalu diberi santapan makanan ibuku, atau makanan khas Jawa tepatnya.

Karena masalah ini. Aku teringat peristiwa dua tahun lalu, saat ibuku tidak begitu mengizinkanku kuliah di tempat yang jauh (saat itu aku ingin kuliah di Surabaya atau Bandung). Aku mulai dapat memahami alasan tersebut, karena mungkin ibu amat paham begitu sulitnya diriku untuk makan. Di rumah pun, seringkali ibu terpaksa memasak dua kali mengingat selera makanku yang berbeda. Apalagi, aku pun sering kali nekat tidak mau makan sama sekali saat masakan yang ada tidak cocok buatku. Astaghfirullah, begitu dzolimnya diriku. Mungkin, ibuku telah memperhitungkan betapa sulitnya aku saat mencari makanan bila jadi kuliah di daerah asing. Subhanallah, ternyata selama ini ibu begitu sabar terhadap diriku *Terimakasih Bu…*

Karena ini pula, ada seorang kawan yang nyeletuk, ” Wah, kalau gitu besok kalau nyari i**ri, harus nyari yang pintar masak makanan khas Jawa dunk!”. Hehe, benar juga, kalau engga’ bisa tak dzolimi terus dengan menyia-nyiakan masakannya.

Maaf, kawan, ini sekedar curhatanku, curhatan ga jelas tentang makanan. Yang bahkan sampai sekarang belum bisa ku pahami, apakah selera makan itu ditentukan oleh kebiasaan dari kecil ataukah genetik? Ada yang tahu?? *tolong ngacung ya*

2 thoughts on “Masakan Jawa: Lezatnya Tiada Dua

  1. makanan Jogja emang paling enak..

  2. huh..dasar lidah Jawa…
    contoh donk aq…ortu jawa, lahir di makassar, besar di jawa. jadi no problem mslh makanan. bagiqu yg penting bukan makanan basi…
    pasti mak nyussss…..ha2…

    ini namanya idealisme mas,,, idealisme dalam memilih makanan.. *halah*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s