Kenapa (tidak) ngeBlog?

Pertanyaan yang cukup menggelitik. Pantaskah ngeblog dipertanyakan? Pantaskah ngeblog dijadikan tren ‘konstruktif’ masa kini, sehingga harus diikuti oleh setiap orang. Kalau pertanyaannya hanya seperti itu, tentu jawabannya tidak. Meski blog kini sedang ngetren, bukan berarti tidak mengikutinya adalah kontra-modernitas. Namun, percayalah kawan, ngeblog memiliki banyak keuntungan, sesuatu yang bila kita pahami akan membuat kita merasa rugi untuk tidak ikut-ikutan ngeblog.

Nah, maka dari itu, apa saja sih yang membuat kita (harus) ngeblog? Perkenankan saya menjelaskannya….

Kita punya modal besar….

Suatu saat, dalam sebuah sesi perkuliahan bersama Bang Abrar. Beliau pernah mengatakan bahwa modal dasar mahasiswa komunikasi adalah menulis dan berbicara, sehingga akan sangat lucu bila ada mahasiswa komunikasi yang tidak mampu menguasai (minimal) kedua ketrampilan dasar ini. Begitu pentingnya kedua ketrampilan ini bisa dianalogikan dengan ketrampilan bahasa inggris bagi mahasiswa Hubungan Internasional, ataupun ketrampilan mengoperasikan komputer bagi mahasiswa Ilmu Komputer. Artinya apa? Yap, keduanya amat penting, catat! sangat penting (dengan huruf ditebalkan).

Karena saking pentingnya kedua ketrampilan tersebut kita dituntut untuk terus mengasahnya, betul tidak? Maka, bersyukurlah kita yang sudah sering mendapat tugas kuliah menyusun essay ataupun makalah. Sayang sekali, begitu ruginya kita bila tulisan tersebut hanya ditulis, dikumpulkan ke dosen dan berakhir menjadi tumpukan kertas belaka. Nah, kenapa tidak dicoba untuk dipublikasikan? Hitung2 itu karya ‘intelektual’ kita, amat sayang bila harus berakhir di kiloan kertas.

Terus kemana mempublikasikannya?

Ya, terserah… kemana aja bisa, asal jangan ke tukang tambal ban. *ga mungkin kali*.

Publikasinya yang saya maksudkan adalah dalam bentuk postingan di blog pribadi kawan2. Tak perlu risau dengan adanya proses seleksi redaksi, karena blog itu milik pribadi (bahkan sangat pribadi) sehingga kawan2 sendiri lah yang akan menentukan apa saja isinya. Tentu berbeda bila semisal kawan2 ‘memaksa’ ingin publikasi ke media massa. Ada banyak proses seleksi redaksi di sana, sehingga tentu tidak semua tulisan bisa dipajang.

Kini, kawan2 bisa membayangkan, berapa banyak koleksi tulisan dari tugas kuliah selama menjadi mahasiswa, sangat banyak tentunya. Sebanyak itu pula modal kawan2 untuk memulai blog.

NgeBlog itu begitu mudah

NgeBlog sekarang sudah jadi barang biasa. Tak harus orang yang benar2 minta terhadap TI, karena mulai dari anak-anak, remaja hingga kakek2 pun bisa memilikinya. Karena memiliki blog memang amat mudah. Bahkan, saya malah berani menyatakan memiliki blog itu semudah memiliki email. Tinggal register (daftar), pilih domain (nama blog anda), selesai…. Seterusnya tinggal bagaimana kawan2 memilih2 tulisan yang pantas untuk diposting.

Saya juga menyarankan kawan2 (terutama bagi yang masih pemula) untuk menggunakan layanan blog gratis semisal wordpress, blogspot, blogdrive, dagdigdug, multiply dan masih banyak lagi. Namun, saya menggaris bawahi kawan2 lebih baik memilih wordpress, karena penggunaanya begitu mudah dan nyaman.

Berbagi ilmu

The last, ngeblog adalah ajang berbagi ilmu. Seperti kata pepatah “Harta akan habis bila dibagi, sedangkan ilmu sebaliknya, akan terus bertambah bila dibagikan”. Jadi, ilmu yang disimpan sendiri, selain tidak bermanfaat, hanya akan hilang dari memori.

Nantinya di dunia blogger, kawan2 akan menemukan bermacam-macam blogger, dari yang memang fokus di satu topik besar (politik, komunikasi, agama, computer, dsb) hingga yang tulisannya amburadul, karena terlalu bervariasi (mungkin seperti saya, hehe). Akan tetapi apapun itu di dunia blogger, kawan2 akan dituntut untuk terus membaca, berdiskusi (dengan tukar-menukar komentar), hingga menuliskan ide kawan2 sendiri.

Bagaimana, menarik bukan? Bisakah kita mulai sekarang juga? Yuks…

*Postingan saya untuk Web Komako, Korps Mahasiswa Komunikasi UGM*

gambar saya ambil dari http://www.toothpastefordinner.com

4 thoughts on “Kenapa (tidak) ngeBlog?

  1. jadi semangat tuk ngeblog!

  2. sama nih, tulisan saya juga amburadul

  3. Suami istri Huffington http://www.huffingtonpost.com
    menjadikan blog sebagai ladang usaha juga lho.
    Pengaruh blog mereka melampaui oplah majalah
    bisnis utama…

    Wah,makasih buat infonya. Kalau blog sebagai ladang usaha. Budi Putera juga seperti itu. Menjadikan BLOGGER sebagai pekerjaan primernya.

  4. walaupun demikian, jangan sampai terlupa bahwa penulis blog, sebagai komunikator – apalagi blog sudah dapat dianggap sebagai komunikasi massa, punya tanggung jawab sosial dalam setiap pesan yang dituangkan…

    [quoting “Seterusnya tinggal bagaimana kawan2 memilih2 tulisan yang pantas untuk diposting”]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s