Kenapa Harus “Pindah” Organisasi?

Organisasi tak selamanya berjalan  dengan baik, adakalanya suatu saat akan terasa ketidaknyaman. Adakalanya berbagai harapan dan impian seorang aktivis di awal akan terbentur dengan berbagai realita lapangan. Saat itulah, akan ada sekelompok aktivis yang berada pada dilemma memusingkan. Memilih bertahan di organisasi tersebut untuk mengembalikan keadaan dengan resiko energi hanya akan terkuras untuk mengurusi hal-hal internal. Atau tergiur pindah ke lain organisasi, yang menawarkan ruang bereskpresi dan mewujudkan idealisme lebih luas, dan ujung-ujungnya organisasi lama pun terlupakan.

Ilustrasi di atas hanyalah pengantar, bagaimana organisasi tidak selamanya ‘ideal’ sesuai perjanjian AD/ART di awal ataupun berbagai slogan dan moto organisasi yang menggebu-gebu, itulah dinamika organisasi. Permasalahan ini pula yang seringkali menimbulkan kegamangan di jiwa aktivisnya, memilih bertahan dan tidak mendapatkan apa-apa atau memilih bermigrasi dan mendapatkan ladang yang lebih baik?  Kedua pilihan tersebut, bukanlah pilihan yang mudah, namun dari pengamatan yang saya lihat pilihan kedua cenderung lebih dipilih oleh para aktivis.

Kisah Seorang ‘Pemimpin’

Dua tahun lalu, tahun 2006, saat Juventus yang notabene adalah klub terbaik di Italia harus terdegradasi ke Serie-B, ada kejadian yang amat heroik. Seorang bintang sekelas Kapten Juventus, Alessandro Del Piero, menunjukkan bagaimana seorang pemimpin seharusnya bertindak di tengah ‘badai’ organisasi. Di tengah kegalauan akan kehancuran Juventus. Dia justru menyeru kepada rekan-rekannya sesama ‘bintang’ Juventus untuk tetap tinggal. Tak cukup sampai di situ, bahkan dia merelakan gajinya dipotong besar-besaran untuk membantu keuangan Juventus. Del Piero rela sengsara demi melihat organisasinya bangkit kembali.

Ketegaran Del Piero untuk merasakan pahitnya perjalanan karir, sama kuatnya dengan  harapannya untuk terus berprestasi setinggi mungkin. Meski Juventus sedang terpuruk, Del Piero akhirnya merasakan ‘buah’ pengorbanannya selama ini. Pasca ‘badai’ tersebut, sebaliknya dia mampu membuktikan diri menjadi seorang legenda bagi Juventus dan Liga Italia. Untuk klubnya Juventus dia memecahkan rekor top skorer sepanjang masa Juventus milik Giampiero Boniperti dan rekor penampilan terbanyak di Juventus milik Gaetano Scirea, padahal kedua rekor ini telah bertahan lebih dari empat dekade. Sedang, untuk Liga Italia dia menjadi ‘legenda’ karena mampu menyabet gelar cappocanonieri (top skorer) di Liga Italia serie-B dan serie-A secara berturutan, dia adalah orang kedua selepas Paolo Rossi pada dekade 80an.

Saya hanya bisa berkata, andai dulu Del Piero ingin pindah dari Juventus saat terdegradasi, hal tersebut tidaklah mungkin sulit bagi pemain sekelas Del Piero. Bahkan, klub-klub besar pun akan antri menanti tanda tangannya. Akan tetapi, ternyata dia dengan tegas berkata,”Tidak, Saya akan tetap di sini dan membangun Juventus!”.

Spirit itu pula yang ditularkan kepada rekan-rekannya di Juventus untuk bersabar dan tidak berlama-lama pula meratapi nasib dengan kesedihan, melainkan membayarnya lunas semua ‘kesalahan’ tersebut dengan prestasi.

Hati yang Terpaut

Saya sering merenungi kisah ini untuk mempertahankan diri menghadapi godaan organisasi lain. Saya percaya di luar sana masih banyak organisasi yang lebih baik dari yang sedang anda dan saya geluti saat ini. Saya percaya bahwa di luar sana ada organisasi yang lebih menawarkan ketenanangan dan kenyamanan berorganisasi. Namun, ternyata motif berorganisasi tidak hanya sampai di situ. Berorganisasi bukanlah semata-mata pencarian akan pelaksanaan program kerja  yang mentereng ataupun sistem kaderisasi yang solid. Melainkan juga tempat bersemainya kesamaan ide-harapan, keterpautan hati dan juga rasa kekeluargaan. Bila ketiga hal tersebut telah ada di hati kita. Saya yakin apapun yang terjadi dengan organisasi ini, hati kita akan menolak dengan sekuat tenaga segala keinginan untuk pindah. Hati ini akan merasa miris pula saat melihat organisasi yang ditinggalkan mengalami kerusakan yang makin parah, meski di tempat lain kita sedang merasakan manisnya organisasi. Saat hati terpaut pula, kita akan lebih memilih berkorban demi apa yang kita yakini, ketimbang harus memilih ke lain hati.

Ya, karena hati yang terpaut atau mungkin saya sederhanakan dengan istilah ‘cinta’ tidak boleh muncul hanya saat senang semata, melainkan juga harus muncul saat sengsara melanda.

2 thoughts on “Kenapa Harus “Pindah” Organisasi?

  1. Prinsip ini akan saya pakai dan kembangkan di Muhammadiyah! :):):)

    Jzklah Pak. Sptnya anda dpt membaca pikiran saya. Saya memang sedikit berangkat dr realita persyarikatan Muhammadiyah saat ini.

    Salam kenal. Salam ukhuwah juga…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s