Garis Hidup yang Kini Berbeda

Kini, delapan tahun telah berlalu sejak aku meninggalkan Kupang (Ibukota Provinsi NTT). Namun, rasa kangen akan kenangan masa kecil dan tentunya sahabat-sahabatku tak pernah lekang oleh waktu. Alhamdulillah, kini perlahan-lahan satu per sahabat masa kecilku dapat kutemukan, meski hanya lewat kontak sms.

Salah satu sahabatku dulu adalah Afid, Afid Abdullah nama panjangnya. Dia adalah salah satu sahabat karibku. Mengingat kami pernah melewati TK dan SD bersama-sama, bahkan rumah kami pun terpaut tidak lebih dari 15-an meter. Begitu kentalnya persahabatan kami, hingga saat dia dan keluarganya memutuskan untuk kembali ke Jawa pasca kerusuhan 1998, diriku amat begitu bersedih. Sedih sekali…

Sembilan tahun selepas perpisahan itu.  Seorang sahabatku pula, Wulan, akhirnya membantuku bertemu kembali dengannya. Dia memberitahu bahwa Afid kini berada di Babat, Lamongan. Tak lupa pula dia memberiku nomor kontak Afid. Aku pun langsung  meneleponnya. Hingga tanpa ku sadari, aku pun memutuskan untuk berangkat ke Babat saat itu juga. Entah, ide mendadak ini kenapa bisa muncul. Mungkin karena buatku persahabatan adalah harta yang amat berarti, sehingga jarak dan halangan apa pun selagi masih sanggup ku tempuh, akan ku tempuh…

Pertemuan itu…

Syahdan, sebelum Isya menjelang, aku tiba di pasar Babat, tempat kami berjanji untuk bertemu. Berhubung belum shalat, aku pun memutuskan untuk shalat Isya terlebih dahulu, sembari  beristirahat sejenak. Ternyata saat diriku shalat, Afid mengirim sms bahwa dirinya telah menunggu di depan pasar. Aku pun bergegas mencarinya di pinggir jalanan pasar. Mencari seseorang yang berkaos hitam dan bercelana pendek seperti yang dia ceritakan di sms.

“Fani, ya?”. Tanya seorang pengendara motor yang juga berhenti secara mendadak. Pengendara motor tersebut adalah sosok yang berbadan besar, menurutku tidak jauh dari kesan preman pasar.

Sejenak aku agak kaget, namun aku pun mulai sadar bahwa inilah Afid yang aku cari. Seorang sahabat yang lebih dari 9 tahun tak pernah ku ketahui kabarnya.

Aku pun diboncengkan ke rumahnya, yang berjarak sekitar 5 km dari pasar Babat. Dalam perjalanan aku membayangkan bagaimana dulu masa kecil kami habiskan bersama. Bermain kelereng (gundu), bermain bola di lapangan depan rumahku hingga maghrib menjelang, bermain video game di rumah tetangga dan tentunya bagaimana kebersamaan selama lebih dari tujuh tahun sekelas.

Sesampainya di rumah, kami pun berdua pun bergegas mencari makan malam. Maklum, perutku agak kosong, karena sejak siang hari belum diisi. Sembari mencari-cari makan malam, dengan jajan, aku mengajaknya ngobrol banya k hal. Lebih khususnya, tentang kabarnya selama 9 tahun terakhir ini.

Darinya pula, aku mengetahui bahwa dia (hampir) tak memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. “SMA-ku aja udah ga jelas, Fan. Apalagi kalau harus kuliah?” begitu katanya. Maka dari itu, saat ini dia lebih memfokuskan diri untuk mencari pekerjaan yang mapan, pekerjaan yang bisa membuatnya hidup mandiri.

Kabar lain yang membuatku sedih adalah bapaknya yang telah meninggal. Peristiwa itu sudah hampir lewat setahun lalu. Namun, dalam beberapa kesempatan dia masih amat mengingat sosok bapaknya. Begitu pula dengan pesan terakhinya untuk terus beribadah dan mengingat Allah.

Dia juga menambahkan,” Fan, karena ingat bapak pula. Meski tampilanku seperti ini. Aku merokok tok, tapi kalau molimo Insya Allah enggak”. Aku pun tersenyum, aku yakin dirimu takkan melakukan hal sehina itu. Meski tampilanmu kini sedikit ‘jalanan’ di mataku, aku tahu di dalam dirimu masih bersemayam sosok Afid yang baik hati dan lugu, sosok anak yang dulu pernah tumbuh bersamaku sewaktu kecil.

*********

Malamnya aku berkesempatan ikut ngobrol dengan kawan-kawannya. Perbincangan kelompok ini memang sepertinya kurang nyetel buatku. Sulit dijelaskan, tapi mungkin inilah wajah anak-anak muda zaman sekarang. Sulit menerima ilmu pengetahuan, akan tetapi begitu nyaman untuk membicarakan hal-hal yang kurang penting. Apalagi (maaf) kalau sudah masalah ‘cewek’, pembicaraan akan menjalar kemana-mana, tanpa memiliki ujung. Namun, apapun itu aku tetap berusaha untuk menjadi pendengar yang baik. Toh juga ini hanya sembilan tahun sekali, pikirku.

Dari pembicaraan itu pula, aku memahami bahwa alasan Afid kembali ke Kupang setahun lalu adalah karena ‘paksaan’ bapak-ibunya untuk mendaftar Polisi. Namun, dia memang pada dasarnya tidak berminat melanjutkan pendidikan. Hingga ujian masuk pun  dijalaninya dengan setengah-setengah, akhirnya impian menjadi polisi pun kandas. Sekembalinya dari Kupang, dia pulang ke Pekalongan karena ‘undangan’ bapaknya yang sedang sakit keras. Keputusan itu terbilang tepat, karena tak sampai dua hari di Pekalongan, dia melihat bapaknya menghembuskan nafas terakhir.

Pasca meninggalnya bapak. Afid kemudian mencari peruntungan dengan bekerja di perusahaan batik. Selain bekerja, dia juga melanjutkan mimpinya untuk menjadi seorang anak band. “Kenikmatan buatku mungkin bukan ilmu, Fan. Aku begitu merindukan untuk memiliki band terkenal. Seperti Sheila On 7 maksudku”, begitu paparnya. Mungkin karena mimpi ini pula, Afid begitu keras kepala tidak ingin melanjutkan kuliah saat ku tawari kuliah sembari bekerja di Yogya. Apa boleh buat, mungkin itu pilihanmu, Fid. Aku sebagai sahabat hanya bisa membantu mendorong.

Berpisah kembali…

Niatku sebenarnya ingin berlama-lama bertemu dengannya. Namun, setelah melihat keadaan aku memutuskan mungkin lebih cepat pulang lebih baik. Sepertinya akan tidak nyaman untuk berlama-lama di sini.

Afid memang telah banyak berubah sekarang. Sosok yang dulu selalu bersamaku, saat bermain, saat bersekolah hingga saat ngaji, kini menjadi sosok yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Kini, acara nongkrong bersama-sama kawan menjadi menu wajibnya tiap hari. Suatu tindakan yang sebenarnya amat tidak ku sukai. Karena buatku, hidup lebih bermakna saat aku bisa menyendiri, entah itu untuk membaca, menulis atau sekedar mengutak-atik laptop kesayanganku. Kalaupun harus keluar bersosialisasi, aku akan melakukannya, namun dengan proporsi yang tepat pula.

Mungkin jalan hidup kami memang berbeda. Aku dengan basic orang tuaku yang amat mendukung untuk terus melanjutkan pendidikan. Sedangkan Afid, kini dia (hampir) tidak memiliki siapa-siapa lagi yang mampu mendorongnya untuk terus belajar.

Kini, kami harus berpisah kembali. Aku yakin Afid akan terus berusaha mencari pekerjaan yang mapan sembari bermimpi membawa bandnya (namanya Sekul) menggapai puncak popularitas.

Sedangkan diriku? Aku ingin kembali ke jalanku, meneruskan mimpiku, menjadi orang yang terkenal karena ilmu. Aku ingin bermanfaat bagi orang banyak lewat ilmuku sehingga semua orang yang pernah mengenalku bangga pernah mengenal diriku. Amien…

Sampai jumpa di lain waktu sahabat… akan selalu ku ingat kata-katamu “Semoga kita bisa bertemu dalam keadaan yang lebih baik lagi, Fan”. Tentu sahabatku, doa itu akan selalu ku kenang, karena diriku pun tidak ingin melihat sahabatku sendiri gagal menjalani kehidupannya.

One thought on “Garis Hidup yang Kini Berbeda

  1. Afid kini telah berubah.. Badannya gede gitu.. Sepertinya suaranya juga berubah.. Tambah ngeBass..:mrgreen:

    *Tottz suka asal deh..*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s