Handphone dan Privasi yang Terganggu

Berbicara perihal handphone (hp) di Indonesia saat ini, menurut saya akan sama pentingnya dengan urusan seberapa pentingnya makan 3x sehari. Saya berani meyakini kata-kata saya di atas, mengingat hp memang telah mencapai posisi yang primer di kalangan masyarakat. Bila dahulunya hanya sebagai barang tersier, kini meningkat dengan drastis menuju posisi primer.

Ke-primer-an posisi hp ini, secara singkat dapat dijelaskan lewat fungsinya sebagai perangkat (gadget) yang amat membantu hidup kita. Hp mampu memangkas jarak komunikasi, mampu menjadi personal-assistant sehari-hari, membantu pengiriman email, transaksi keuangan antar bank hingga menonton televisi.

Namun, seringkali pula segala kemudahan itu tak dibarengi dengan ‘kenyamanan’ penggunaan, terutama pada masalah privasi. Tak jarang, banyak oknum yang menggunakan kemudahan ini untuk bertindak usil, iseng bahkan hingga jahat kepada orang lain. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari sekedar dikejar-kejar orang tak dikenal, penipuan sms, sms berhadiah hingga teror pembunuhan seperti yang dialami wartawan Metro di Bandung kemarin.

Alhamdulillah, saya belum pernah mengalami hal-hal yang amat buruk seperti wartawan di atas. Akan tetapi, cukup dengan diusili orang tak dikenal pun, saya ternyata sudah bisa langsung meledakkan amarah. Maka dari itu, di sini saya ingin bercerita akan pengalaman ini.

Begini ceritanya…

Beberapa malam lalu, ada nomor tak dikenal yang berulang-ulang kali miscall ke hp saya. Ketika diangkat pun seringkali langsung diputus (namanya juga miscall, hehe). Nah, setelah beberapa kali miscall, dia pun mengirimkan sms seperti ini “Halo cwk, lagi ngapain, bla..bla..bla.. habis kamu disms ga pernah mbalas sih..bla…bla”.

Kontan saja, saya (yang memang merasa tidak pernah berurusan dengan orang seperti ini) mengatakan bahwa smsnya salah sambung. Sejurus kemudian, dia malah meyakinkan diri bahwa smsnya tidak salah sambung dan yakin bahwa saya adalah orang yang dia tuju. Untuk memastikan, dia tak salah sambung saya pun menanyakan namanya. Setelah berbelit-belit (entah kenapa dia ngotot tidak ingin menjawab), akhirnya dia mengaku bernama Minaryo (kayaknya orang desa sih, hehe). Dan saya pun mengaku bernama Zulfi, Zulfi Ifani (benar kan? Saya tidak bohong, ini memang nama saya).

Eugh, ini dia yang buat saya jengkel. Dia tidak percaya itulah nama saya, bahkan tetap NGOTOT bahwa saya adalah orang yang dia maksudkan (entah siapa itu, mungkin kawan, atau mungkin pacarnya). Wajar kan jika saya agak emosi? Saya menjelaskan identitas saya lebih detail lagi, “Nama saya Muhammad Zulfi Ifani, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UGM semester 4, asal Magelang.” Di sini tidak ada yang saya tutup-tutupi bukan? Saya serius, tentu sembari berharap dia segera paham akan kesalahannya.

Eh, dia masih tetap belum percaya…

Saya pun serasa ingin sekali memaki-maki rasa ketidakpercayaannya (yang sangat tidak beralasan) akan keaslian identitas saya. Bahkan, dengan nada menghina dia pun mengatakan, “Ngaku anak UGM? Bakal diketawain orang loe, jangan mengada-ngada deh!”. Astaghfirullah…

Padahal, saya sudah berusaha sabar dan baik hati menjelaskan identitas saya. Eh, dia yang malah bertindak makin bodoh dan ngotot. Maka, bila akhirnya saya pun lepas kendali dan mengiris sms agak keras, ” Bodoh kok dipelihara.” Mohon dimaafkan sebesar-besarnya. Walau, saya rasa sms itu amat pantas mengobati kejengkelan saya.

Mungkin karena merasa dimaki-maki oleh saya. Dia pun membalas makian saya (tidak perlu disebut di sini) dengan lebih kasar (Astaghfirullah…). Selain itu, dia tetap saja ngotot meyakini jika saya menipunya dengan tidak mengakui bahwa saya adalah kenalannya.

Saya pun menyuruhnya untuk menelpon untuk memastikan keadaan. Sayangnya, dia dengan entengnya meminta saya yang menelepon (Kalau seperti ini siapa yang perlu ya??).

Saya pun beristighfar atas kejadian  itu. Yah, lagi-lagi kesabaran saya emang belum teruji. Saya masih terlalu mudah emosi, padahal hanya masalah sepele seperti ini. Selain hanya membuang-mbuang pulsa dan membakar emosi, sepertinya tak hal lain yang bisa saya ambil sebagai pelajaran dari peristiwa ini. Astaghfirullah…

Note:

Mungkin saja saya sedang dikerjai kawan saya. Kalau itu benar, saya mohon maaf. Tapi, kalau itu salah, saya harap pemilik nomor itu bisa belajar memahami privasi orang lain. Terimakasih…

5 thoughts on “Handphone dan Privasi yang Terganggu

  1. ya juga sich , tapi kalo ngga ada HP , serasa gimana gitu

  2. lain kali kalo dpet sms iseng ndak usah ditanggepin.
    aku juga pernah pengalaman gitu. eh, ternyata yang ngerjain temanku sendiri. dia ngaku, kapok ngerjain aku soalnya ndak ditanggepin….. (maaf, teman😛 )

  3. paling-paling orang itu baru punya HP,
    jadi tangannya gatel
    bawaane pengen sms teruus

    hahaha….

    mungkin ya? dulu juga waktu awal2 punya hape, pengennya megang hape terus… hehe

  4. Ngga usa ditanggepinlah kayak gitu. Ngga rugi kok nyuekin telpon n SMS iseng gitu…🙂

    Alhamdulillah, sekarang udah berakhir ‘teror’nya Pak…

  5. Ati2 aja zul…dengan kamu bales SMS ngga jelas itu, berarti orang jahil di seberang yakin bhw nomor HP yang dia kirim SMS itu bener2 ada yang punya. Apalagi kamu terangkan dengan jelas identitasmu. Bisa jadi individual informations itu jadi alat penipuan…

    Bukan bermaksud menakut2i…hehehe

    semoga engga’,,,, Amien !! *harap2 cemas*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s