20 Juli: Ayo Matikan TV!

Ketergantungan anak pada tayangan televisi sudah sangat tinggi dan mencapai titik yang mengkhawatirkan, sehingga semua pihak wajib bertanggungjawab. (Era Muslim)

Atas dasar alasan tersebut maka bertepatan dengan Hari Anak Nasional 2008, Koalisi Nasional Hari Tanpa Televisi (HTT) berinisiatif mencanangkan kampanye: Turn off TV, Turn on Live! “Matikan TV dalam Sehari pada tanggal 20 Juli”.

Kampanye ini menurut Nina Mutmainnah Armando dari Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) tidak bermaksud menjadikan televisi sebagai musuh. Melainkan lebih fokus pada gerakan untuk membangun sikap bijak terhadap televisi. Karena realitanya, seringkali tanpa kita sadari televisi menguasai hampir 24 jam dalam hidup kita.

Ditambahkan lagi, target gerakan ini adalah mengajak sekitar 1 juta keluarga di seluruh Indonesia untuk mematikan TV dalam sehari penuh pada tanggal 20 Juli.  Lebih khusus lagi, yaitu keluarga yang sedang memiliki anak usia prasekolah dan sekolah dasar.

Dukungan terhadap kampanye ini pun bermunculan, salah satunya dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), lewat Ibu Fetty Fajriati Miftach yang menyatakan bahwa “Hari Tanpa TV” amat patut didukung. Dia juga mengajak seluruh keluarga Indonesia untuk memberikan alternatif lain kepada anak-anak selain menonton TV.

Selain sosialiasi kampanye HTT yang telah dilakukan di berbagai media massa. Kampanye ini juga disemarakkan dengan aksi damai di Bunderan Hotel Indonesia, pada Jum’at 18 Juli mulai pukul 09.00-11.00 WIB.

Kenapa harus televisi yang kita matikan?

Mungkin yang sekarang patut dipertanyakan adalah mengapa televisi harus dimatikan? Pertanyaan ini memang membutuhkan jawaban yang panjang dan mendetail. Karena televisi, layaknya manusia, punya kelebihan dan juga kekurangan, plus-minus sederhananya. Dua hal yang berkebalikan, namun amat signifikan efeknya bagi khalayak.

Boleh kita ketahui, data statistik pada tahun 2006 menunjukkan bahwa televisi mampu mencoverage hampir 80% dari masyarakat Indonesia, di sini bisa kita sederhanakan bahwa televisi adalah media yang paling luas jangkauannya. Televisi mampu mengikis kesenjangan antara orang kaya maupun orang miskin yang akan menjadi konsumennya. Bagi orang kaya televisi adalah hiburan menarik selepas seharian penat dalam pekerjaan. Sedang bagi orang miskin, televisi adalah hiburan ‘gratis’, hiburan yang sejenak dapat melupakan mereka dari berbagai himpitan ekonomi.

Maka, klop sudahlah posisi televisi sebagai ‘dewa kecil’, atau bahkan ‘tuhan kecil’ bagi berbagai lapisan masyarakat.

Sayang, luasnya jangkauan televisi di Indonesia tidak dapat dibarengi oleh kualitas program. Kualitas program yang saya maksudkan adalah program-program yang ‘benar-benar’ mendidik dan juga bermanfaat bagi masyarakat secara signifikan. Misalnya saja, bagaimana bisa sinetron yang hanya dipenuhi mistik dan kemusykilan akan kekayaan, infotainment (yang bahkan didominasi oleh berita-berita gossip dan bohong) dan juga berbagai kontes-kontes musik eksploitatif mampu merajai pertelevisian kita? Ini baru pada tahap permukaan, kawan. Saya yakin bila kita membahas lebih dalam masalah pertelevisian, akan makin banyak kisah miris yang akan membuat kita kecewa atau bahkan jengkel.

Memang di sisi lain ada program-program yang baik. Semisal program edukasi anak, berita dan debat intelektual di beberapa stasiun. Namun, jika kita berbicara fakta maka rating dan persentase penayangan program tersebut tidaklah sebanding dengan program-program tak bermutu di atas. Bahkan lebih miris lagi, dua stasiun televisi yang kita anggap paling cerdas saat ini, Metro Tv dan TvOne, hanya mampu menempati rating buncit di antara stasiun-stasiun lainnya pada bulan Juni lalu. Sangat menyedihkan memang…

Jangan cuma sehari dunk!

Sebagai seorang mahasiswa yang menekuni dunia komunikasi, dan media khususnya, saya sangat gembira melihat kampanye HTT ini. Menurut saya, kampanye seperti ini perlu lebih sering digalakkan. Agar pertama, masyarakat makin ter-edukasi akan sisi positif dan negatif televisi yang saat ini amat timpang. Dan kedua, memberikan mini-warning bagi stasiun-stasiun televisi terkait mutu siarannya. Bahwa khalayak pun kini berharap untuk melihat program-program yang lebih bermutu.

Terakhir, mengutip kata-kata dari George Gebner, bahwa efek media sifatnya adalah akumulatif. Media (mungkin) takkan bisa mempengaruhi khalayak secara instan, namun secara bertahap, sedikit demi sedikit. Sehingga, efek buruk media mungkin baru akan kita lihat efeknya setelah beberapa periode, bukan saat ini. Jadi, penting rasanya bagi semua keluarga untuk tidak cukup sehari saja mematikan televisi, melainkan mematikan televisi seterusnya secara berkala. Tentu dengan tujuan untuk memfilter keluarga dari bahaya akumulatif televisi.

3 thoughts on “20 Juli: Ayo Matikan TV!

  1. pernyataan ttg efek media sifatnya adalah akumulatif itu kayaknya bener banget. serasa yah tayangan kriminal kriminal selain membantu kita tambah awas, juga membuat para kriminal makin kreatif dalam modul operandinya (sekaligus brutal)

  2. TV bener2 merusak.. tapi yang memang hiburan yang enak hehe..

  3. SHut Down Ur Television!!!
    Berani gak Qt hdp tanpa televisi
    Nonton TV kala butuh saja…cukup 2 jam/hari
    Kalo perlu spt jaman dahulu…nonton TV di kecamata/keluarahan
    Ada satu pos siskamling di YK yang langganan TV kabel koq…
    Warga ngumpul, akur, lingkungan aman dan nyaman
    he2…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s