Homesick di Kediri…

Akhirnya, keinginanku selama hampir satu tahun ini kesampaian: kursus bahasa Inggris di Pare, Kediri. Alhamdulillah, aku sampai di kota ini sabtu kemarin (12/07). Aku berangkat dari Magelang, malam sabtu dengan menumpang Bus EKA jurusan Magelang-Surabaya, dan sampai keesokan paginya di Jombang. Dari Jombang, akhirnya seorang kawanku (Mas Lukman, Biologi UGM) mengantarkannku hingga kota ini.

Berhubung aku terlambat datang ke Pare, di sini aku agak kesulitan untuk memilih tempat kursus yang terbaik. Sehingga berdasarkan pertimbangan jarak (dan seadanya tempat kursus) maka aku pun mengambil kursus di dua tempat. Pertama, di Kursus Mahesa untuk mengambil program translation. Kedua, di Kursus Dynamic untuk mengambil program General English (Reading, Grammar dan Conversation).

Alhamdulillah, meski belum banyak ilmu yang bisa kuserap. Ada banyak pengalaman menarik yang dapat kutemukan di sini. Pertama, adalah bagaimana kultur ‘pondok’  cukup terlihat di sini. Memang tak ada aturan untuk berbusana muslim. Tapi, luar biasa, hampir semua peserta kursus (terutama yang putri) secara sadar menggunakan busana muslimah. Busana muslimahnya pun kalau boleh dinilai kental dengan budaya pondok-pondok NU. Yup, dan aku pun makin menyadari di Indonesia ‘busana’ muslim adalah symbol yang amat terkait dengan gerakan Islam tertentu. Tidak hanya NU, bahkan Tarbiyah pun ciri tersendiri.

Kedua, lagi-lagi masalah bahasa, jujur saja walaupun sama-sama berbahasa jawa. Bahasa jawa di sini relatif berbeda, bahkan seringkali tak dapat kupahami dengan bahasa jawaku. Selain, beberapa kosakata yang jelas beda maknanya, berbagai intonasi dan penekanan pun relatif membuatku bingung.

Ketiga, ini yang benar-benar menyiksaku: masalah makanan. Harga makanan memang relatif lebih murah dari Yogya, tapi yang jadi masalah itu sulitnya mencari makanan yang cocok. Makanan di sini rata-rata rasanya asin, sangat jarang yang manis, padahal aku ‘hanya’ cocok makan yang manis-manis (khas Jawa). Sehingga, mau tak mau beberapa hari ini pemaksaan harus dilakukan, tentunya agar tak mati kelaparan (hehehe…). Dan jujur, aja ini dia yang mbuat diriku rindu dengan Yogya maupun Magelang. Rindu makanannya… !!

Akhirnya satu kalimat buat kota ini: Alhamdulillah, aku sampai juga di sini…

4 thoughts on “Homesick di Kediri…

  1. Tak bawain masakan magelang po mas?(he…he…he)
    Tapi di sana tetep ada kucingan to?

  2. Jauh sekali mas tuk belajar bahasa Inggris? Di Jogja kan juga banyak tempat belajar bahasa Inggris.

    Kebetulan itu Pak,,, nyari yang rumah plus lingkungannya mendukung untuk praktik bahasa. dan di sini tempatnya..

  3. Jaman sekarang kalau gk bisa bahasa Inggris, sangat rugi besar. Manfaatkanlah waktu yang ada, jangan keburu ketuaan kaya saya …. he he he …

    Yup, benar Pak… Insya Allah dengan menguasai bahasa Inggris kita bisa mendapatkan ilmu yang jauh lebih luas… Amien

  4. Pingback: Masakan Jawa: Lezatnya Tiada Dua « Zulfi’s View :: Melihat Realitas Dari Sudutku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s