Antara Demokrasi dan Islam, Perspektif Ulama

Indonesia adalah negara yang berdasarkan demokrasi, ini fakta yang tak dapat dipungkiri oleh semua pihak. Namun, khusus bagi kaum muslimin seringkali wacana tentang demokrasi menjadi diskursus yang tak selesai pada tataran “apakah demokrasi sesuai dengan tuntunan Islam ataukah berlawanan?”.

Kebetulan, saat sedang merapikan file-file di laptop saya, tanpa sengaja saya menemukan artikel yang saya susun beberapa tahun lalu, tepatnya saat menulis bagaimana pandangan Islam terhadap demokrasi. Saat itu memang, saya temukan adanya pro-kontra di antara para ulama.  Bahkan, saya pun tidak bisa menentukan mana yang benar dan mana yang lebih benar (?).

Daripada terus mbingungkan, coba saya tulis ulang pandangan-pandangan tersebut. Nanti silahkan pembaca menilainya sendiri.

Pandangan yang Kontra

Contohnya adalah Abu A’la Al-Maududi yang secara tegas menolak demokrasi. Menurutnya, Islam tidak mengenal paham demokrasi yang memberikan kekuasaan besar kepada rakyat untuk menetapkan segala hal. Demokrasi adalah buatan manusia sekaligus produk dari pertentangan Barat terhadap agama sehingga cenderung sekuler.

Muhammad Iqbal, seorang pemikir dari Pakistan juga menandaskan bahwa demokrasi sejalan dengan kemenangan sekularisme atas agama, demokrasi modern menjadi kehilangan sisi spiritualnya sehingga jauh dari etika. Demokrasi yang merupakan kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat telah mengabaikan keberadaan agama. Parlemen sebagai salah satu pilar demokrasi dapat saja menetapkan hukum yang bertentangan dengan nilai agama kalau anggotanya menghendaki.

Nah, itu yang kontra, sebaliknya ada pula yang pro dengan demokrasi.

Pandangan yang Pro

Ulama kharismatik, Yusuf al-Qardhawi, sebaliknya memperlihatkan dukungannya akan demokrasi. Menurutnya, substansi demokrasi sejalan dengan Islam. Hal ini bisa dilihat dari beberapa hal seperti: Pertama, proses pemilihan pemimpin dalam demokrasi melibatkan banyak orang untuk mengangkat seorang yang berhak memimpin dan mengurus keadaan mereka. Sehingga, tentu saja, masyarakat tak akan memilih seseorang yang tidak mereka sukai. Demikian juga dengan Islam. Islam menolak seseorang menjadi imam shalat yang tidak disukai oleh makmum dibelakangnya.

Kedua, usaha setiap rakyat untuk meluruskan penguasa yang tiran juga sejalan dengan Islam. Bahkan amar makruf dan nahi mungkar serta memberikan nasihat kepada pemimpin adalah bagian dari ajaran Islam.

Ketiga, pemilihan umum termasuk jenis pemberian saksi. Karena itu, barangsiapa yang tidak menggunakan hak pilihnya sehingga kandidat yang mestinya layak dipilih menjadi kalah dan suara mayoritas jatuh kepada kandidat yang sebenarnya tidak layak, berarti ia telah menyalahi perintah Allah untuk memberikan kesaksian pada saat dibutuhkan.

Keempat, penetapan hukum yang berdasarkan suara mayoritas juga tidak bertentangan dengan prinsip Islam. Contohnya dalam sikap Umar yang tergabung dalam syura. Mereka ditunjuk Umar sebagai kandidat khalifah dan sekaligus memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi khalifah berdasarkan suara terbanyak. Sementara, lainnya yang tidak terpilih harus tunduk dan patuh. Jika suara yang keluar tiga lawan tiga, mereka harus memilih seseorang yang diunggulkan dari luar mereka. Yaitu Abdullah ibn Umar. Contoh lain adalah penggunaan pendapat jumhur ulama dalam masalah khilafiyah. Tentu saja, suara mayoritas yang diambil ini adalah selama tidak bertentangan dengan nash syariat secara tegas.

Terakhir, kebebasan pers dan kebebasan mengeluarkan pendapat, serta otoritas pengadilan merupakan cirri-ciri demokrasi yang sejalan dengan ajaran Islam.

Pandangan Yusuf Qardhawi tersebut disimpulkan oleh Salim Ali al-Bahnasawi dimana bagaikan dua sisi mata uang, di satu sisi mengandung hal yang baik dan tak bertentangan dengan Islam, di sisi lain memuat sisi negatif yang bertentangan dengan Islam. Sisi baik demokrasi adalah adanya kedaulatan rakyat selama tidak bertentangan dengan Islam. Sementara, sisi buruknya adalah penggunaan hak legislatif secara bebas yang bisa mengarah pada sikap menghalalkan yang haram dan menghalalkan yang haram.

Sekarang anda pilih yang mana? Pilih pro atau kontra? Atau seperti saya, masih bingung memilih antara pro dan kontra, tapi tidak menolak juga untuk mencoblos dalam pemilu. He3

2 thoughts on “Antara Demokrasi dan Islam, Perspektif Ulama

  1. ironisnya di Indonesia demokrasi makin kebablasan.
    demo anarkis
    pejabat korup merajalela
    pembangunan mandek dst..
    BTW ironis sekali

    yup, inilah Indonesia dg segala keunikannya, dan juga segala ‘kebobrokannya’

  2. artinya, sebenernya ndak ada yang salah dengan konsep demokrasi kan? kalo kebablasan, bukannya itu kesalahan pada level penerapannya, dan bukan pada konsepnya?

    Ada ulama yang mendukung, ada yang menolak. Bagi saya, ambil jalan tengahnya, kita ga mungkin berlepas diri dengan sistem ini. Kita ambil yang baik dan buang yang buruk jauh2..
    Demokrasi bukan tujuan, hanya sekedar alat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s