Seminggu Jadi Orang Tua: Benci Tapi Rindu

Dengan berakhirnya kegiatan Pesantren Anak dan Remaja (PAR) XIX di Budi Mulia kemarin sore (6/07), maka berakhir pula berbagai yang menggelayuti kepalaku beberapa bulan terakhir. Maklum, karena memang dalam kegiatan ini aku diberi amanah menjadi Ketua Panitia. Kini, semua jerih payah ini terbayar dengan lunas, cukup memuaskan, meski di sana-sini masih terdapat banyak kekurangan.

Ada alasan tepat mengapa diriku mengistilahkan diri menjadi orang tua dalam seminggu.
Tentu karena posisi kami selaku panitia yang ‘dititipi’ adik-adik peserta PAR XIX oleh orang tua masing-masing. Sehingga, selama seminggu kemarin sederhananya kami adalah menggantikan posisi orang tua mereka. Di sini kami  akan menjaga mereka, mengajari mereka, memimpin mereka dan semua hal yang berkaitan dengan mereka, kecuali memberi uang saku tentunya.

Banyak suka duka yang terjadi di sini. Suka duka itu seringkali datang berbarengan dengan kondisi adik-adik. Saat adik-adik rewel ataupun menangis minta pulang, kami pun ikut sibuk untuk menenangkannya. Sebaliknya, saat melihat adik-adik begitu menikmati kegiatan hingga tertawa-tawa, alangkah senang pula hati kami melihatnya. Mungkin seperti itu pula perasaan seorang orang tua kepada anaknya, ada rasa empati yang otomatis berjalan untuk anak-anaknya.

Tanpa terasa berbagai kegiatan berlangsung selama seminggu kemarin. Mulai dari jalan-jalan dan studi lapangan ke Prambanan, bermain reporter cilik, outbond di kali dekat Budi Mulia, hingga kegiatan terakhir yang paling mengasyikkan yaitu manasik haji di pantai Glagah. Begitu berderetnya kegiatan membuat panitia tak bisa mengimbangi ‘energi’ adik-adik, sehingga seringkali panitia malah tertidur kecapekan meninggalkan adik-adik yang masih terus beraktivitas. Mungkin ini pengetahuan yang menarik, karena baru kupahami lewat kegiatan ini.

Seringkali pula, kegiatan ini amat bergantung pada orang tua (wali santri) itu sendiri. Sang anak memang dipondokkan di pondok kami, namun andil orang tua dalam memotivasi anaknya pun amat dominan. Ada orang tua yang amat khawatir saat tahu anaknya (padahal hanya) kangen rumah dan kemudian menangis. Namun, ada pula yang amat santai dan menyerahkan urusan tersebut kepada panitia. Tentunya warna-warni tindakan orang tua ini juga menjadi inspirasi buatku kelak. Aku ingin mendidik anak-anakku semandiri mungkin, agar mereka menjadi lebih cerdas ketimbang lingkungannya. Amien…

Berbagai kejutan telah hadir, seperti kehadiran Pak Anies Baswedan untuk menjemput putra-putrinya dari kegiatan ini. Tapi entah mengapa, bagiku semua itu tidak lebih berarti daripada kesepian yang hadir kembali di pondokkku, kesepian tanpa suara-suara riuh-rendah adik-adik. Pondok ini kembali sepi, sunyi, hingga kicau burung pun kini kembali terdengar….

Kini, adik-adik telah pulang ke rumah masing, kembali ke rutinitas liburan mereka. Entah itu PSan, jalan-jalan, nongkrong-nongkong, atau sekedar tidur-tiduran seharian. Kami tidak tahu apa yang kini mereka kerjakan, namun kami tetap berdoa semoga kegiatan seminggu kemarin tidak hilang bekasnya. Amien Ya Rabbal ‘Alamien…

One thought on “Seminggu Jadi Orang Tua: Benci Tapi Rindu

  1. Pastinya menyenangkan bertemu anak2 kecil yang begitu bersemangat🙂

    Salam kenal

    yup, anak2 emang menyenangkan…. sosok yang masih polos dari dosa dan tipu daya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s