Andai “Pengkhianatan” Itu Tak Pernah Terjadi

Suatu kali, kita -tanpa terkecuali- tentu pernah merasakan betapa perihnya dikhianati. Rasa dikhianati tak ada bedanya dengan ditusuk pedang dari belakang -tanpa kita ketahui. Pengkhianatan bisa bermula dari sekedar masalah cinta, bisnis, politik dan bahkan agama. Namun tak dapat dipungkiri lagi sehalus dan selembut apapun dia tetap saja perih itu tak dapat pernah dapat terlupaka, selamanya…

Begitu pula dengan dunia sepakbola. Seindah apapun permainan sepakbola -yang mampu menghipnotis miliaran penduduk dunia- juga tak pernah lepas dari pengkhianatan itu sendiri. Dan minggu ini dua nama sekelas Avram Grant dan Roberto Mancini pun merasakan betapa perihnya pengkhianatan itu.

Avram Grant, pria Israel ini sebenarnya telah lama digadang-gadang akan menemui kisah akhir yang tak menyenangkan di Chelsea, tapi dia tak bergeming. Prakiraan yang cukup beralasan mengingat tugasnya bagaikan menggenggam ‘bara’, bara ambisiusitas seorang Roman Abramovich tentunya. Keputusannya untuk menukangi Chelsea pun berawal dari kinerja negatif Jose Mourinho ini di awal musim. Sehingga seorang Jose Mourinho, seorang Special One, pun harus merelakan posisinya. Kinerja Grant sebenarnya tidak buruk-buruk amat, malah cukup baik, mengingat prestasi Chelsea musim ini mampu mencapai final Piala Carling dan final Liga Champion dan tentunya heroisme saat mampu bangkit mengejar MU hingga akhir musim di Liga Inggris. Sayang, Grant memang bukanlah the lucky person itu dan gagal di tiga kejuaraan yang mampu dia rebut.

Tak jauh berbeda, Roberto Mancini pun mengalami nasib yang sama, dikhianati. Tiga scudetto dan dua Coppa Italia tak mampu membayar kepercayaan Massimo Moratti. Padahal secara rekor, dia adalah pelatih terbaik Inter Milan selama 30 tahun terakhir selepas Helenio Herrera. Ironis memang, di saat Inter menemukan sosok ideal yang mampu mengusir ‘sial’ selama 17 tahun terakhir, justru sosok tersebut malah ditendang keluar. Karena jangan sampai lupa, seorang Marcello Lippi yang mengantarkan Italia juara dunia pun pernah gagal menangani Inter. Kini, Massimo Moratti malah mendatangkan Special One, Jose Mourinho, seorang pelatih bermulut besar yang langsung menggebrak Inter dengan isu mega-transfer. Kini, pemain Inter mana yang tidak ketar-ketir dengan posisinya? Saya pun makin mantap untuk meragukan potensi Inter musim depan…

Dengan sikap Abramovich dan Moratti yang ‘seenakknya’ sendiri, kegagalan klub mereka musim depan adalah harga yang pas untuk pengkhianatannya musim ini.

Pengkhianatan memang menyakitkan, kawan. Meski akhirnya maaf terucap, sedalam dan sebanyak apapun maaf itu takkan mampu mengobati hati yang pernah terluka. Sakit karena pengkhianatan pula lah yang (mungkin) menyebabkan Nabi memasukkannya sebagai ciri kemunafikan, karena memang amat berbahaya.

“Dan kini, aku hanya bisa meminta sebaik dan seburuk apapun diriku (dan juga kami) berjanjilah kau takkan berkhianat, kawanku… andai itu akhirnya terjadi, biarkan aku (dan kami) memaafkanmu dengan cara kami sendiri… karena pengkhianatan itu sepantasnya tak pernah kau lakukan.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s