Menyongsong Pilgub Jateng 2008 (Bag. Pertama)

“Posting yang amat panjang, sehingga harus kubagi dua”

Tanggal 22 Juni 2008 esok bukanlah tanggal biasa. Karena hari itu pula masa depan pembangunan di daerah Jawa Tengah akan ditentukan lewat Pemilihan Gubernur Jawa Tengah 2008-2013. Tak hanya istimewa bagi warga Jawa Tengah sebagai pemilih secara umumnya, namun juga bagi para calon yang telah jauh hari ‘berkampanye’. Semuanya akan larut dalam ‘senam jantung’ menanti hasilnya.

Di essay sederhana ini, saya tak akan berbicara panjang lebar mengenai konsep-konsep saluran artikulasi kepentingan politik bernama ‘Pemilihan Gubernur Jawa Tengah’. Melainkan, saya cenderung membatasi pembicaraan pada permasalahan yang common-sense yaitu bedah profil para calon gubernur dan juga mencoba menganalisanya berdasarkan perspektif awam.

Menakar ‘Kekuatan’ Calon

Secara resmi ada lima pasangan calon gubernur dan wakil gubernur yang akan bersaing untuk mendapatkan suara terbanyak. Di sini akan saya bedah profil mereka satu per satu, yaitu antara lain:

Pertama, tentu tak dapat dinafikan calon dari PDI-P, posisinya sebagai partai pemenang pemilu Jawa Tengah tahun 2004 mempermudah prosedur unttuk mengajukan calon sendiri. Kali ini PDI-P mengusung pasangan Bibit Waluyo dan Rustriningsih, yang biasa disingkat dengan BiRu. Latar belakang Bibit yang militer tentu membawa ‘stereotip’ tersendiri sebagai sosok yang tegas, lugas dan disiplin, mungkin tak akan berbeda jauh dengan mantan Gubernur Mardiyanto yang juga purnawirawan militer. Sedang pasangannya, Rustriningsih, selain masih menjabat sebagai Bupati Kebumen Jawa Tengah. Dia juga memiliki prestasi mengagumkan sebagai perempuan pertama yang maju menjadi pimpinan pemerintahan. Dan kini, spanduk, stiker, baliho dan berbagai publikasi milik mereka tak akan sulit kita dapatkan, tentu dibarengi pula dengan slogan ‘Bali Ndeso, Mbangun Ndeso’ yang amat terkenal itu.

Yang kedua, tak lain adalah Walikota Semarang saat ini Sukawi Sutarip yang diusung Partai Demokrat dan Ketua PGRI Jateng DR. Sudharto yang diusung PKS. Menurut saya, pemilihan Sukawi Sutarip patut dipertanyakan menyangkut indikasi kasus korupsi yang menimpanya. Kasus korupsi sendiri, saat ini amat sensitif di kuping warga dan pemerintah. Lihat saja, bagaimana gagalnya mantan Gubernur BI Burhanuddin Abdullah untuk mencalonkan diri kembali sehubungan dengan statusnya yang terkait dengan aliran dana BLBI. Namun, preseden negatif ini sedikit terobati dengan track record PKS yang amat gemilang akhir-akhir ini, terutama lewat kemenangan di Pilgub Jawa Barat dan Sumatera Utara. Kemenangan yang amat mencengangkan mengingat statusnya yang underdog. Fakta ini juga membuktikan bagaimana PKS memang bukan partai biasa -yang hanya mengandalkan kekuatan massa- melainkan lebih jauh dari itu, PKS mampu mentranformasikan apa yang disebut ‘pendidikan politik’ kepada kader-kadernya.

Ketiga, calon yang datang dari PKB. PKB dengan dukungan konstituen warga nahdliyinnya percaya diri untuk maju melalui pasangan Agus Suyitno dan Kholiq Arif. Agus Suyitno yang juga mantan Pangdam Diponegoro, secara tak langsung memiliki image publik kesamaan dengan calon dari PDI-P Bibit Waluyo sebagai sosok yang tegas, lugas dan disiplin mengingat latar belakangnya yang militer. Sedang, Kholiq Arif terkesan lebih mewakili ‘rakyat’ dan kaum muda lewat labelnya sebagai Bupati Wonosobo dan juga tokoh muda. Saya sendiri melihat inilah calon yang ‘paling lambat’ startnya. Karena, di saat calon-calon lain telah mapan dengan melakukan pendekatan ke masyarakat secara kultural, pasangan ini malah baru digodog. Hal yang bisa jadi bagian dari efek domino konflik internal di DPP PKB. Tapi, optimisme patut diapungkan mengingat konstituen PKB yang amat erat dengan warga nahdhliyin yang kuantitasnya amat besar.

Keempat, Partai Golkar pun tak dapat dilupakan, partai terkuat nomor dua di Jateng ini jauh-jauh hari telah mengumumkan Bambang Sadono yang juga Ketua DPW Golkar Jateng sebagai calonnya. Sedang, pasangannya Drs. Muh. Adnan adalah Ketua Lajnah Tanfidziyah (DPW) NU Jateng. Menarik untuk mengamati proses pencalonan Muh. Adnan yang ternyata diputuskan lewat Rapim PWNU Jateng. Jadi, bisa dikatakan inilah ‘calon resmi’ yang diusung oleh warga nadhliyin di Jawa Tengah. Pertanyaan yang kemudian berkembang adalah bagaimana sikap warga nahdliyin sendiri dalam menyikapi hal ini, apakah condong ke calon ‘resmi’ dari PWNU atau sebaliknya condong ke calon resmi dari ‘Partai milik NU’? Siapa yang tahu. Juga patut digaris bawahi adalah, apakah keputusan NU menawarkan ‘calon resmi’ ini bertentangan dengan Khittah NU tahun 1926 tentang lepasnya NU dari politik praktis ataukah sekedar kompromi kepentingan?

Yang terakhir, tentunya adalah kolaborasi calon dari PPP dan PAN. Kolaborasi ini menawarkan M. Tamzil yang juga masih bertugas sebagai Bupati Kudus sebagai calon gubernur dan Rozaq Rais yang menjabat sebagai Ketua DPW PAN Jateng sebagai calon wakil gubernur. Saya sendiri melihat kampanye yang dilakukan pasangan ini adalah tipikal ‘kampanye cerdas’. Dari jauh-jauh hari mereka telah menampilkan publikasi yang garang, namun tak sekedar publikasi ‘penokohan mereka’, melainkan lebih kepada visi, misi dan komitmen mereka akan pembangunan di Jateng. Beberapa komitmennya, antara lain semisal: Pendidikan dan kesehatan murah (atau bahkan gratis), pembangunan berbasis anti-korupsi dan ketahanan pangan. Sekilas dengan cara kampanye seperti itu, cukup menempatkan dirinya berbeda dengan calon lain yang cenderung -sekedar- mempublikasikan ‘penokohan’ diri. Selain itu, track record Muh. Tamzil sebagai pejabat pemerintahan yang meniti karir dari bawah pun membawa sisi positif tersendiri akan kapasitasnya sebagai seorang pemimpin yang berpengalaman.

3 thoughts on “Menyongsong Pilgub Jateng 2008 (Bag. Pertama)

  1. Pingback: Menyongsong Pilgub Jateng 2008 (Bag. Kedua) « Berbagi Makna, Maknai Kehidupan

  2. beberapa waktu yang lalu aku baca di republika, tentang masalah ‘kampanye’. disitu ditulis, sebaiknya untuk kampanye capres mendatang lebih banyak dengan cara ‘debat terbuka’ daripada sekedar ‘kampanye model arak-arakan’. Dengan ‘debat terbuka’, rakyat bisa memilih calon yang benar2 berkualitas berdasarkan penilaian terhadap gagasan dan ide-ide yang dilontarkan. Selain itu, dana dan anggaran untuk kampanye model ‘debat terbuka’ ini relative lebih irit daripada kampanye ‘arak-arakan’ dengan bagi-bagi kaos gratis dan mengundang artis untuk sekedar meramaikan….

    Untuk pilgub jateng, aku baru inget kalo punya 2 KTP jawa tengah (boyolali dan klaten)…..nyoblos gak ya???

    Iya, kampanye cerdas spt itu perlu ditradisikan agar rakyat tahu siapa nantinya yg hnya njual wacana. Rakyat udah bosen ditipu janji2 selangit….

    Punya KTP? nyoblos aja…. berkontribusi utk perubahan Jateng, betul ndak?

  3. terlenjur banyak yg apatis dengan pilkada I jateng..
    dan terlelu sedikit yg benar-benr tertarik..

    Piye jhal??

    NB. sumbernya dr mana ni Mas? kompilit baget…

    mestinya tak kasih referensi, tapi berhub ini essay bebas, aku jadi malas ngasi kyk gitu…
    aku banyak ngenet, pengamatan di lapanangan, diskusi sama beberapa dari koran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s