Menyongsong Pilgub Jateng 2008 (Bag. Kedua)

meneruskan posting saya bagian pertama, maka akan saya tawarkan analisa dan kesimpulan yang dapat saya susun.

Sekedar Analisis Dangkal

Selepas pemaparan profil keseluruhan calon di atas saya jadi tertarik menawarkan beberapa analisis yang saya miliki. Terkesan dangkal mungkin, namun saya kira cukup dapat digunakan sebagai mata pisau tuk meraba hasil pilgub esok. Apa saja? Ini dia….

Pertama, fakta berkata bahwa tak ada jaminan partai pemenang pemilu daerah akan pula memenangi pilgub. Lihat saja, bagaimana kekalahan PKS di DKI yang notabene berposisi sebagai partai pemenang pemilu. Sebaliknya, di Jawa Barat koalisi partai medioker PKS dan PAN ternyata mampu meruntuhkan hegemoni partai raksasa (Golkar dan PDI-P) yang unggul dari segi massa maupun nama besar calon. Tak hanya sampai di situ, fenomena kolaborasi partai medioker pun kembali dilakoni PKS yang berduet dengan PPP untuk memenangi pilgub di Sumatera Utara. Maka dari itu, meski Jawa Tengah amat masyhur sebagai basis ‘partai merah’, menurut saya -hampir tak ada jaminan- fakta tersebut mampu menolong calonnya menduduki kursi Jateng-1 dan Jateng-2. Dan meminjam opini dari pengamat politik UI, Fachry Ali, “Warga pun kini semakin cerdas dalam memilih pemimpin, sehingga pemimpin yang terpilih pun cenderung merupakan pilihan terbaik.”

Kedua, fenomena pemasangan calon nasionalis dan agamis tak terelakkan untuk terjadi kembali. Bagaimana seorang Bambang Sadono (nasionalis-Golkar) dipasangkan dengan Muh. Adnan (agamis-NU) dapat terjadi, begitu pula dengan yang terjadi pada Sukawi Sutarip dengan Sudharta. Sejarah mungkin belum mampu membuktikan keberhasilan kolaborasi semacam ini, itulah yang terjadi pada pasangan Megawati dan Hasyim Muzadi pada Pilpres 2004. Namun, secara image publik kolaborasi semacam ini terkesan berimbang karena mampu mengakomodir sekaligus dua arus mainstream warga, arus yang nasionalis maupun agamis.

Ketiga, siapapun calonnya, menurut saya isu muda atau tua tidak akan banyak bermasalah. Meminjam kata-kata dari DR. Denny Indrayana (Ahli Hukum Tata Negara UGM), maka yang lebih penting saat ini adalah mencari calon yang ‘bersih’. Tua asal ‘bersih’ tentu lebih menarik daripada muda tapi ‘kotor’. Fenomena bersih ini pula yang -mungkin- memperlancar laju Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf (HaDe) di Jawa Barat untuk merebut kursi Jabar-1 dan Jabar-2 beberapa waktu lalu.

Jadi, Pilih Yang Mana?

Essay ini tidak dimaksudkan untuk mengarahkan pembaca kepada calon gubernur tertentu. Saya berusaha untuk bersikap se-independen mungkin dengan memaparkan fenomena yang terjadi sebenarnya. Namun, pandangan tersebut tentu -akan sangat- berkaitan dengan pola pikir dan frame yang anda pakai. Apapun pilihannya, saya sangat menyarankan agar anda meneliti terlebih dahulu apa dan siapa calon yang akan anda pilih. Karena pilihan anda akan menentukan jalannya pembangunan di Jawa Tengah. Saat anda salah memilih, maka tak ada yang patut disalahkan lagi selain diri anda sendiri saat pembangunan hanya berjalan di tempat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s