Pers Dan ‘Image’ Tokoh Masyarakat

Dahulu di Arab, syair menjadi bagian dari budaya yang tak dapat dipisahkan. Maka, tak salah jika penyair adalah profesi yang amat terhormat, mungkin seperti profesi dokter saat ini di depan masyarakat Indonesia. Kenapa penyair dapat begitu penting? Hal ini dikarenakan penyair memiliki otoritas untuk membentuk image seorang tokoh. Seorang yang dekat dengan penyair dan disukai akan dibuatkan syair-syair indah yang meninggikan derajatnya di kalangan masyarakat. Sebaliknya, tokoh yang dibenci oleh para penyair akan berpotensi diolok-olok dalam syair yang secara otomatis kan menjatuhkan derajat tokoh tersebut.

Maka tak mengherankan jika Imri bil Qais, seorang penyair yang urakan dan genit, tetap saja mendapat tempat yang terhormat di mata para gadis zaman itu. Penghormatan tersebut tidak lain berhubungan dengan ketakutan para gadis akan syair-syair buatan Imri. Mereka takut nama mereka akan jatuh di mata masyarakat bila tak ikut-ikutan menghormatinya.

Mungkin pola gerak penyair zaman dahulu tidak berbeda jauh dengan pers masa kini. Pers dan penyair sama-sama memiliki potensi untuk membentuk opini publik, khususnya opini terhadap seorang tokoh. Orang yang baik di mata pers akan mudah menjadi baik pula di mata masyarakat, begitu pula sebaliknya. Mungkin akan lebih jelas bila saya paparkan beberapa contoh.

Contohnya saja apa yang terjadi pada Alm. mantan Presiden Soeharto. Saat awal-awal reformasi lalu, pers begitu gencarnya memberitakan semua kejelekan beliau, hingga seakan-akan beliau tak pernah berjasa sama sekali terhadap negara ini. Hal itu kemudian berbalik 180% derajat saat menjelang akhir hayat beliau. Tanpa dikoordinir pers ‘seakan-akan’ berkonsensus menunjukkan simpati pada beliau. Berbagai wacana bersliweran mulai dari bagaimana ketidakpantasan hujatan yang selalu beliau terima, usul penghapusan dosa-dosa politiknya hingga yang paling besar tentu wacana pemberian gelar pahlawan nasional bagi beliau. Dan tanpa disadari masyarakat pun mengamini pandangan positif pers terhadap Pak Harto, tanpa sadar bahwa beberapa tahun lalu pernah ikut-ikutan menghujat.

Contoh lainnya adalah bagaimana kesamaan suara pers Indonesia akan calon Presiden Amerika mendatang. Entah, apakah memang Obama adalah tokoh yang amat baik, saya melihat terjadi ketimpangan informasi tentang informasi calon presiden yang ada. Konfrontasi antara Hillary dan Obama selaku calon dari Partai Demokrat selalu dilihat dari kacamata Obama, dimana Obama dicitrakan positif dan Hillary yang sebaliknya. Belum lagi ekspos informasi terhadap John McCain kandidat dari partai Republik yang amat minim. Terlepas dari kesepakatan saya akan ide Change!! yang dibawa oleh Obama, saya melihat terjadinya ketimpangan pemberitaan. Fokus pemberitaan seperti mengarahkan kita pada satu suara untuk mendukung Obama. Apakah memang benar seperti itu saya pun tidak dapat mengatakan kepastian, namun saya meraba dari beberapa kecenderungan yang ada.

Bahkan, fenomena keberhasilan artis di pilkada akhir-akhir ini pun saya yakini tak akan jauh-jauh dari faktor pers. Keberhasilan Rano Karno dan Dede Yusuf, saya rasa akan banyak berhubungan dengan pencitraan positif mereka di mata pers. Mereka adalah artis yang selalu terlihat protagonis di depan pers dan itu terbawa ke dunia nyata. Jadi, pesan tidak langsung bagi artis spesialis kawin-cerai atau peran antagonis di layar kaca, lebih baik kurungkan saja niatan menjadi birokrat.

Sebagai masyarakat kita pun harus mulai kritis terhadap pemberitaan pers. Pers memang memiliki slogan bersikap obyektif terhadap semua permasalahan. Namun, bukan berarti pers akan selalu bebas nilai. Karena pers pun banyak membawa kepentingan, yang belum tentu kita pahami. Maka, cobalah untuk membaca cerdas, jangan langsung memberikan justifikasi sebelum benar-benar yakin akan duduk permasalahannya.

Selain itu, mungkin kawan-kawan dapat mengambil hikmah dari arti pentingnya pers. Pers dapat melahirkan tokoh masyarakat (public figure). Maka, jika ingin menjadi orang terkenal, tidaklah cukup menjadi orang pintar semata, namun juga harus pandai-pandai mengelola pemberitaan pers terhadap diri kita.

Akhir kata, Selamat berjuang menjadi orang terkenal, kawan !!

3 thoughts on “Pers Dan ‘Image’ Tokoh Masyarakat

  1. Saya pikir tidak ada pers yang benar-benar bisa obyektif,
    Pers seperti halnya manusia memiliki sisi yang rumit dibelakangnya,,

    karena memang faktor yang berperan dlm sebuah publikasi berita sangat byk dan komplek, ada wartawan, narasumber hingga pemegang modal. koran sekaliber kompas pun masih bisa diperdebatkan obyektifitasnya.

  2. tadi pagi ust. Yunahar membahas masalah ini. persis banget sama yang ditulis zulfi, kalo penyair di Arab itu punya peran besar dalam membentuk opini publik.

    sampe-sampe dalam peristiwa besar sekelas fathu makkah, dengan korban yang hanya 4 orang, salah satunya yang dibunuh adalah PENYAIR yang dulunya sangat jahat kepada Nabi.

    waktu ust yun mbahas ini, tiba-tiba aja langsung inget dengan tulisanmu..>>> jangan GR ya…he2…

    Alhamdulillah, Ust.Yun akhirnya niru ilmuku, walah…
    Paling tidak ini menunjukkan kalau ‘pers’ itu emang amat penting. Sepertinya dulu aku juga pernah bilang kalau Napoleon punya kata-kata legendaris, “Saya lebih takut dengan empat surat kabar daripada seratus serdadu dengan senjata terhunus”. Hihi..

  3. 😀 Wah, ini betul. maka ada ada disebut itu bahwa pers adalah pilar ke-empat (?) demokrasi apa ya? Lha tapi yg ke-1-3-nya itu apa, saya kok lupa. he.. he..😀
    Lhah kini ada lagi yg terbaru dong, yaitu dunia blog (blogosphere) ini. Ada persamaan dan perbedaan-nya dgn pers (konvensional). Saya pernah baca bhw kemarin Nurul Izzah binti Anwar Ibrahim itu di Malaysia, atau PAS scr umum, juga didukung oleh blogger2. Sbelumnya Joseph Erap Estrada di Philipina, kampanye-nya terlawan oleh SMS2 yg tersebar. Kini dunia IT kiranya juga akan menjadi “pilar” terbaru lagi dlm kehidupan demokrasi, meski jangkauan publiknya masih terbatas pd penggunanya.
    Namun saya anggap penyair pd jaman Nabi juga bukan hanya dapat dianalogikan dg pers kini, namun juga SENIMAN itu sendiri. Seniman akan selalu memiliki tempat tersendiri di dalam kerhidupan masyarakat atau di hati rakyat itu sendiri, karena mereka lebih bicara soal rasa/feeling, nurani; jujur, tanpa pretensi kepentingan. Saya lebih senang bila blogger2 bicara politik adalah dalam perspektif BUDAYA.😀 Salam Kenal.

    Perdana Menteri Swedia Carl Bildt juga blogger aktif loh… memang Blogsphere sekarang udah jadi area yang luar biasa buat berkomunikasi….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s