Pondok Pesantren Budi Mulia: Agregator Bahagiaku

Memilih masuk kembali ke pondok adalah bagian dari mimpiku sebelum masa kuliah. Aku sudah puas berada di “alam bebas” selama masa SMA. Karena selama itu pula aku merindukan suasana kebersamaan dan religisiutas seperti yang dulu pernah aku rasakan di pondok.

Aku pun menemukan sebuah pondok pesantren (PP), PP Budi Mulia, tempat yang aku gadang-gadang menjadi persinggahan mimpiku. Sebuah pondok yang sebenarnya (sering) dicibir karena ketidakjelasan program kerja dan arah kaderisasinya. Namun, entah kenapa aku tidak perduli dengan pendapat orang lain, sebaliknya aku begitu antusias dan bahagia tinggal di sini. Aku tinggal di sini bukan semata-mata karena ego prestasi pribadi, melainkan karena kutemukan arti keluarga di sini.

Di sini aku mendapatkan keluarga dan sahabat baru, komunitas yang kompak dalam berbagai hal. Kami pernah merasakan repotnya meladeni anak-anak SD dalam sebuah kegiatan pesantren anak. Kami pernah merasakan konflik internal pada sebuah kegiatan ramadhan bersama mahasiswa. Dan kami pun juga pernah merasakan di tanduk kematian, saat terjebak badai selama berjam-jam di puncak Gunung Lawu.

Di sini aku juga belajar bagaimana memahami bahwa tak semua mahasiswa bernasib sebaik diriku. Tak sedikit pula kawan yang merasakan beratnya beban keuangan. Tak jarang pula yang terpaksa berpuasa berhari-hari tuk menghemat pengeluaran. Subhanallah, tanpa disadari kusadari bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk terus bergembira bersama-sama.

Di sini juga aku belajar menjadi diri sendiri dalam mengikuti setiap kegiatan. Hampir semua kegiatan kami berjalan tanpa adanya ‘pengawas’. Semua kami jalani dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab. Seringkali memang rasa malas menghinggapi, namun kami mencoba melupakannya dengan terus menghibur diri dengan bercanda di setiap kesempatan. Hingga tak heran, Ust. Faturrahman Kamal pun menjuluki kami santri yang bermental cengengesan. Tak apalah karena ini memang kami, kami yang penuh warna-warni.

Subhanallah, itulah sekelumit kenanganku bersama kawan-kawanku di Budi Mulia. Kenangan yang mengingatkan akan keseharianku beberapa tahun lalu di Pondok Assalaam (Sukoharjo). Kenangan ini pula yang membuatku mantap menolak tawaran beberapa kawan untuk pindah ke asrama mahasiswa lain, meski asrama yang ditawarkan jauh lebih mapan dan beken. Karena di sana aku tak yakin kan menemukan keluarga sebaik dan ‘selucu’ di Budi Mulia.

Kawan, kita kan merindukan masa ini suatu saat nanti …

Kutulis saat Budi Mulia baru saja memiliki kolam pemeliharaan Lobster dan meja pingpong, dua fasilitas yang membuat kami makin akrab dalam kebersamaan…

4 thoughts on “Pondok Pesantren Budi Mulia: Agregator Bahagiaku

  1. selain itu… di budi mulia bisa internetan gratis….sehingga membuat dirimu jadi semakin betah,,,
    he….he…….

  2. @ Qolbi

    Wah ini sindiran keras nih.
    Namanya juga mahasiswa, boleh dunk nyari yang gratis2….

  3. Sip lah.. Semua mempunyai dunianya masing-masing.. Tetapi dunia adalah surga bagi orang kafir..
    Nyambung ga sih komen gw ini.. gag nyambung banget deh keknya…

  4. ..dirimu angkatan X ya? jelass, tiap cantrik di budi mulia punya alasan khusus untuk tetap bertahan di padepokan. budi mulia ibarat meja makan yang komplit dan berlimpah hidangannya tapi sayang, kita hanya punya sebuah cendok dan sebuah garpu untuk melahapnya…selebihnya, kita akan mengaisnya lewat ingatan kita, nanti.

    ini ndak pak farid, bapaknya Ryan? iya, pak saya angkatan X. Alhamdulillah, di sini saya banyak mendapatkan suka dan duka akan warna-warni kehidupan di Budimulia…
    Oh ya, makasih buat kunjungannya Pak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s