Perang Demi Perdamaian, Adakah?

“Akan kubeli senjata pemusnah jika itu selesaikan semua masalah.

Dan akan segera memulai perang jika ada alasan yang tepat tuk berperang.

Tapi, tak pernah ada… alasan tuk berperang”

(Jagostu, ‘Alasan Perang’)

Lirik di atas hanyalah sepenggal lirik sindiran Band Jagostu akan fenomena perang saat ini. Lagu ini menghantam telak kondisi dunia yang tidak henti-hentinya dilanda perang, yang bahkan tidak memiliki alasan rasional untuk berlangsung. Irak, Afghanistan dan Palestina hanyalah sepenggal kisah pilu akan menyiksanya suasana perang.

Sampai kapan pun perang akan selalu beroposisi biner dengan perdamaian, kawan. Karena perdamaian selalu berkonotasi positif dan membahagiakan. Maka, tak ada orang waras pun di dunia ini yang menentang perdamaian. Berbicara perang versus perdamaian mengingatkan saya akan adagium terkenal dari Yunani, “Sivis Pacem Para Bellum”. Jika menginginkan kedamaian maka bersiap-siaplah untuk perang, begitu kira-kira artinya.

Adagium ini mungkin dimaknai oleh sebagian bangsa dengan sikap defensif terhadap isu perang. Militer Amerika dan Israel misalnya, memiliki segala macam persenjataan militer canggih demi keperluan perang: pesawat tempur, kapal perang, jumlah pasukan jumbo hingga kepemilikan akan senjata nuklir menjadikan negara mana pun yang berani berkonfrontasi akan berpikir seribu kali. Kedigdayaan itu pula yang (mungkin) menjadikan kedua negara ini tidak cukup defensif, melainkan juga agresif di depan negara yang mereka anggap ‘kurcaci’. Saat ini, Amerika dengan pongahnya terus menari di atas puing-puing derita rakyat Irak dan Afghanistan, Israel pun tak kalah innocent-nya dengan menindas rakyat Palestina selama puluhan tahun. Mungkin itulah ‘kedamaian’ yang mereka yakini, kedamaian di atas derita orang lain, begitu miris.

Tak hanya Amerika dan Israel yang defensif, militer Cina pun saat ini terus membangun militernya secara besar-besaran. Mungkin saja ini persiapan terhadap nuklir milik Korea Utara, bagian dari usaha ‘mempertahankan’ Taiwan atau malah antisipasi kolaborasi Amerika-Jepang di bidang militer, entahlah siapa yang tahu? Yang jelas kini Cina menempatkan sekitar 18% anggaran tahunannya atau sekitar 418 juta yuan untuk keperluan militer. Anggaran sebesar ini menjadikan Cina negara dengan budget militer terbesar nomor tiga di dunia setelah Amerika dan Rusia. Dengan budget sebesar itu tidak mengherankan saat ini Cina pun telah memiliki pesawat-pesawat tempur secanggih milik Amerika dan juga teknologi anti-satelit, teknologi yang dapat menembak jatuh satelit mata-mata di luar angkasa.

Tak jauh dari Indonesia, militer Singapura pun memiliki potensi defensif yang mematikan. Rizky Ridyasmara penulis buku ‘Singapura: Basis Israel Asia Tenggara Tinjauan Ekonomi Politik dan Militer’ menuturkan keyakinannya akan permainan Israel dibelakang militer Singapura. Hal ini diperkuat dengan fakta adanya 18 orang perwira Israel yang turut andil dalam pengembangan militer Singapura. Kecanggihan militer Israel tidak terbantahkan lagi, hal inilah yang membuat mereka begitu eksis menjajah Palestina meski ‘dikeroyok’ negara-negara Islam di sekitarnya. Maka jangan heran jika fasilitas militer Singapura saat ini berlabel yang terbaik di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik.

Keempat negara di atas memperlihatkan bagaimana mereka mencoba meraih kedamaian lewat sikap defensif, mendirikan fungsi militer yang megah untuk menjaga diri. Kondisi ini memang terkesan aman bagi stabilitas keamanan dalam negeri, namun tidak bagi negara sekitar. Karena potensi militer sebesar ini sangat potensial untuk meledak dahsyat sewaktu-waktu. Saat ledakan terjadi, tentu tidak hanya negara yang berkonfrontasi yang akan terkena imbasnya. Melainkan, negara-negara tetangga yang lemah secara militer juga akan terkena imbasnya, yang bahkan dapat jauh lebih parah.

Maka dari itu, adagium di atas belumlah final, masih ada “Sivis Pacem Para Pactum.” Jika menginginkan kedamaian maka mulailah dari diri sendiri. Kedamaian itu bermula dari diri sendiri. Bermodal senyuman dan keramahan seharusnya berbagai permasalahan dapat kita selesaikan, tanpa perlu saling menghujat, mengumpat apalagi sampai saling menumpahkan darah.

Rasulullah pun dalam hidupnya selalu mengutamakan jalan damai untuk menyelesaikan permasalahan, karena perang hanyalah bagian dari ‘keterpaksaan’. Kalaupun perang, banyaka aturan-aturan damai yang harus ditegakkan, semisal anak-anak, wanita, orang tua dan fasilitas-fasilitas umum yang tidak boleh diserang. Begitu arifnya ajaran Islam, karena Islam mengajarkan seberat apapun perang yang dihadapi wajib diselesaikan dengan cara damai. Saat Fathul Makkah pun Rasul memberi teladan bagaimana menaklukkan musuh dengan damai, tanpa pertumpahan darah setetes pun. Subhanallah…

Dua opsi yang bertolak belakang di atas menjadikan masyarakat dunia berada pada dilema. Faktanya memang masyarakat awam tak punya hak untuk turut memilih perdamaian, oknum otoritaslah yang memilih menegakkan kedamaian di atas sikap defensif atau menjaga dengan modal senyum dan keramahan.

Kita yang masyarakat awam tidak tahu jalan kedamaian apa yang akan dipilih oleh pemimpin. Namun, kita akan selalu menunggu perdamaian tercipta, meski di sudut was-was.

“Perang akan berakhir jika kau menginginkannya…”

(Jagostu, ‘Alasan Perang’)

2 thoughts on “Perang Demi Perdamaian, Adakah?

  1. perdamaian..perdamaian..
    perdamaian..perdamaian..
    banyak yang cinta damai
    tapi perang semakin ramai

  2. @ joesatch

    ini mah nambahin lagu…
    Gigi emang Oke…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s