AADS (?)

Sekedar Prolog

Waktu kecil dahulu, saya melihat Islam sebagai sebuah kesatuan yang indah. Sholat ke masjid berjama’ah, Idul Fitri yang penuh maaf dan ceria, persaudaraan seagama yang kokoh jadi memori indah yang takkan terlupakan. Namun, saat terus mempelajari Islam lebih mendalam, bukan belajar tentang Islam, saya makin menemukan fakta miris. Islam yang saya anut ternyata ‘terfragmentasi’ ke berbagai gerakan. Entah kenapa, kesemuanya seakan berjalan sendiri-sendiri. Ada yang mengatakan ini adalah sunnatullah dan menampilkan argumen-argumen rasional yang menyejukkan akan arti keragaman. Sebaliknya tak jarang juga ada yang mencerca seakan-akan kondisi ini adalah ‘laknatullah’ yang harus dilawan, bahkan mengusahakan berbagai cara tak lazim untuk menyatukannya.

AADS?

Di sini ada gerakan yang menganggap diri seakan-akan paling benar, seakan-akan gerakan lain tak ada yang benar. Mengklaim diri paling mengikuti Rasulullah dan sahabat, sehingga memaksa gerakan lain untuk mengikuti mereka. Ketidaksamaan dengan gerakan lain akan berujung pada fatwa-fatwa yang memojokkan, yang bahkan terkesan menyesatkan. Kenapa ini harus terjadi? Tak jarang berbagai gerakan major pun terkena imbas dar fatwa-fatwa negatif tersebut. Apakah ini memang jalan yang syar’i untuk menyatukan ummat?

AADS?

Di sini ada gerakan yang secara terang-terangan berkonfrontasi dengan ustadz-ustadz ternama. Pemikiran, latar belakang masa kecil hingga semua aspek dari hidup mereka tak luput dikorek kelemahannya untuk kemudian dipaparkan ke area publik agar dijauhi jama’ahnya. Hasan Al Banna, Sayyid Qutb, Yusuf Qardhawi hingga Ridwan Hamidi (di Jogja) pun tak luput terkena ‘semprotan’ ini. Terlalu besarkah ‘dosa’ mereka hingga harus diluruskan dengan jalan sekasar ini? Apakah ini memang jalan yang syar’i untuk menyatukan ummat?

AADS?

Artikel ini juga muncul diskusi akan keresahan Ust. Faturahman Kamal (alumni Riyadh, Pengajar di PP Budi Mulia), beliau heran dengan arogansi gerakan tertentu. Padahal dahulu materi keIslaman yang dipelajari lewat guru dan buku-buku pun seragam dengannya. Namun, kenapa prakteknya sangat berbeda? Terkesan ada pemaksaan kehendak terhadap kebenara gerakan tersebut. Apakah ini memang jalan yang syar’i untuk menyatukan ummat?

AADS?

DR. Yusuf Qardhawi pun menegaskan dalam bukunya fiqh prioritas akan permasalahan ummat. Permasalah ummat sangatlah kompleks, namun persatuan dan ukhuwah internal ummat Islam harus diutamakan di atas segalanya. Fragmentasi seperti ini sah-sah saja bagi elit ulama yang paham akan agama, namun akan sangat memusingkan bagi umat awam yang pemahamannya dangkal. Untuk hidup saja susah, kenapa harus ikut-ikutan menyeburkan diri ke dalam agama yang penuh konfrontasi menurut mereka. Mungkin kalau umat awam boleh berkata, mereka akan berkata, “Wahai Ulama, tolong jangan buat kami makin bingung dengan segala konfrontasi ini…”

AADS?

Mari menghindarkan diri dari konfrontasi internal ummat Islam. Demi terwujudnya Izzul Islam wal Muslimin… Amien.

Note:

Artikel ini tidak bermaksud menghujat, sekedar muhasabah bersama. Marilah memulai memilah-milah prioritas permasalahan demi kepentingan ummat. Bukan melulu melempar hujatan sembari menyembunyikan wajah. Jika, hal ini terus-menerus terjadi, umat Islam tidak akan pernah dapat menjadi khalifatul fil ardh dan selamanya menjadi ‘rakyat jelata’ di muka bumi.

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.” (Huud: 118)

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu…” (Ali Imron: 103)

3 thoughts on “AADS (?)

  1. Gerakan muncul dan memaksa karena mereka sendiri tidak dapat untuk mengargumentasikan kemauan mereka secara sehat

    Saya ingat mempunyai teman yang mungkin masuk dalam gerakan yang anda sebut, fanatisnya minta ampun … tapi begitu disuruh beragumentasi … dia hanya berputar-putar.

    Salam kenal,

  2. ust faturahman kamal kalau g salah alumni universitas islam madinah ksa dan s2 di uin sunan kalijaga.

    saya tak dapat menduga, gerakan apa yang sedang mas sampaikan. saya pikir setiap orang punya framework sendiri dalam memahami islam.

    saya kira gerakan2 yang mas sampaikan di atas, orang-orangnya baik-baik kok. mungkin karena terlalu percaya sama ustadznya saja dan menutup diri dari orang lain yang membuat ada hal-hal luput dari pandangan mereka.

    saya pikir itu wajar. karena setiap orang terbatas dalam melihat dunia. apa yang kita anggap hari ini benar bisa jadi salah di kemudian hari, ketika kita terus belajar dan menemukan hal-hal yang baru.

    yang jelas mereka juga islam. jadi g ada masalah…
    so, marilah kita terus belajar dan menerima berbagai perbedaan yang semakin hari akan semakin banyak muncul di hadapan kita…

    bisa jadi orang yang kita anggap salah, bodoh dan sok benar, lebih tinggi kedudukannya dari kita di hadapan Allah…

    ……………
    dari seorang yang merasanya dirinya bodoh….
    http://grelovejogja.wordpress.com

  3. Pingback: tanggapan AADS « hati yang tenang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s