Menggagas Rating Kualitatif Blog

Semakin saya mendalami dunia blog, semakin saya temui banyak fakta-fakta yang unik. Saya yakin setiap blogger memiliki mimpi yang sama: memiliki BLOG yang beken dan ramai dikunjungi netter. Begitu pula dengan saya, saya pun pada awalnya berpikir seperti itu.

Namun, setelah berpikir lebih jauh saya menemukan fakta bahwa parameter yang sering digunakan para blogger untuk mengukur keberhasilan blognya seringkali adalah rating kuantitatif. Fenomena ini (menurut pandangan saya) bertumpu pada dua asumsi, yaitu: pertama, mengukur kesuksesan blog dengan jumlah komentar yang dapat menempel pada setiap posting. Makin banyak komentar maka posting itu pun dianggap makin baik pula.

Kedua, mengukur kesuksesan dengan statistik pengunjung. Bahkan, seorang blogger (kawan saya) memiliki target sekian ribu pengunjung pada blognya tiap hari. Konon saat ini dia telah mencapai 500-an pengunjung per hari.

Pertanyaan yang kemudian muncul apakah benar dua parameter rating kuantitatif tadi mampu memberikan gambaran akan kesuksesan sebuah blog?

Mestinya tidak juga kawan

Mau tahu kenapa? Saya berpendapat bahwa kesuksesan dengan parameter kuantitatif dapat saja dicapai dengan mudah. Pertama, ada kemungkinan dimana pemilik blog memang orang yang terkenal, artis misalnya (Blog milik Maia Estianty). Blog ini baru berdiri beberapa hari saja komentarnya sudah menerima ratusan bahkan ribuan komentar kini. Lagi-lagi bukan karena hebatnya posting dari Maia, melainkan karena nama besar dia sebagai publik figur.

Kedua, adanya jaringan tukar-menukar komentar antar blogger. Saya pun (dapat dikatakan) melakukan hal ini. Beberapa komentator di blog saya adalah kawan saya sendiri, yang mana saya pun selalu mengirimkan komentar terhadap apa pun yang ditulis oleh saya (walau seringkali posting saya kurang bermutu).

Ketiga, mencari celah dari bahasan yang sedang ngePop. Isu publik yang sedang berkembang segera direspon dengan cepat (missal, bagaimana ramainya beberapa blog dengan pembahasan tentang Fitna beberapa waktu lalu), bahkan seringkali dibarengi judul yang ‘meledak-ledak’ (hiperbol). Padahal, tak jarang contentnya dangkal, bahkan hanya membuat pembaca makin bertanya-tanya, bukannya paham.

Ketiga alasan di atas menjadi dasar berpikir bagi saya untuk mengatakan bahwa penilaian kuantitatif adalah penilaian yang dangkal, sekedar di permukaan. Sama seperti fenomena rating kuantitatif pada sinetron, sangat wajar pula bila blog yang memiliki rating kuantitatif pun belum memiliki content yang mencerahkan, bahkan bisa saja cenderung menipu.

Rating kuantitatif selama ini tidak (akan mampu) menjelaskan bagaimana manfaat sebuah artikel terhadap pembacanya. Padahal sebagai fenomena pencerahan, blog adalah taman raksasa tempat budaya baca, tulis dan diskusi bersemi. Maka dari itu, bagaimana sebuah pencerahan dapat ‘mekar’ tanpa adanya niat membuat sebuah posting yang berkualitas?

Solusi?

Menghubungkan fenomena blog dengan sinetron, di sini saya menemukan garis hubungan solusi yang dapat saling mengisi, itulah rating kualitatif. Rating kualitatif adalah sebuah perhitungan rating suatu blog berdasarkan parameter kualitas.

Parameternya tentu sangat kompleks, jauh lebih kompleks dari rating kualitatif. Begitu pula dengan implementasinya, hampir mirip dengan implementasi rating kualitatif pada sinetron. Di mana sampai sekarang belum dapat diimplementasikan dengan baik.

Namun, jika dikembalikan kepada blog sebagai fenomena pencerahan dengan sub-fungsi membudayakan baca, tulis dan diskusi. Maka, beberapa parameter perhitungan yang dapat dimasukkan, antar lain adalah: Pertama, menformalkan format penulisan. Apakah sudah resmi atau belum (EYD, penggunaan referensi, penempatan SPOK, dll). Kalaupun tidak harus formal (karena memang berat), paling tidak harus sebuah posting harus berkesuaian bahasa tulis yang lazim, bukan bahasa lisan yang ditulis, karena memang berbeda.

Kedua, adanya pertanggung jawaban untuk selalu memberi posting yang berkualitas secara keilmuan. Perbanyak referensi, perbanyak diskusi dan perbanyak kontemplasi sebelum mem-publish sebuah posting bisa menjadi bahan bakar yang baik.

Seluruh penjelasan di atas hanyalah sekedar bagian dari pemikiranku. Entah, rating semacam ini memang ide yang masih fresh atau malah sudah ada yang mengakomodir. Yang jelas, saya akui ide rating kualitatif diadaptasikan dari ide yang sama terhadap ide rating kualitatif pada sinetron.

Terlepas dari dikotomi rating kuantitatif dan kualitatif. Saya melihat ada juga blog yang mampu mengawinkan kedua aspek ini. Beberapa di antaranya adalah blog milik
Wimar Witoelar di perspektif.net dan juga blog milik dosen ITB Budi Raharjo di rahard.wordpress.com. Ada yang lain?

Sekian posting kali ini, semoga bermanfaat…🙂

Fastabiq BLOGGINGTM Kawan… !!

GoBlog! Coz GoBlog-Blog is non sense…

3 thoughts on “Menggagas Rating Kualitatif Blog

  1. Rating kuantitatif selama ini tidak (akan mampu) menjelaskan bagaimana manfaat sebuah artikel terhadap pembacanya

    Saya setuju dengan pendapat diatas.

  2. menarik… menarik…🙂 *daku bukan seleb blog lho*

    iya pak… saya juga bukan artis, hanya mahasiswa biasa…hehe

  3. ijin copas artikelnya boss..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s