Arogansi Ilmu, Pantaskah?

Menarik untuk melihat diskusi sengit antar kader IMM UGM dalam blog milik Qolbi. Di situ terjadi adu argumen menarik tentang sebenarnya Ilmu siapa yang paling pantas(?). Terlepas dari serius atau hanya sekedar bercanda, saya menilai komentar-komentar terakhir sudah menunjukkan adanya keseriusan untuk memperlihatkan arogansi ilmu.

Sebenarnya, apa sih arogansi ilmu itu? Kata-kata ini sering saya pakai, tapi mungkin belum semua orang memahami maknanya seperti yang saya pahami. Oleh karena itu, saya menjelaskan bahwa arogansi ilmu yang saya maksud adalah sikap (keras kepala) untuk merasa ilmu yang dimiliki atau dipelajari adalah yang terbaik.

Saya sadar, secara manusiawi banyak orang yang merasa ilmu yang dia miliki adalah yang terbaik, apalagi setelah lama berkutat dengan ilmu tersebut. Argumen ilmiah berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus halaman pun dapat dikeluarkan untuk sekedar mempertahankan pendapat tersebut.

Silakan kalau perlu mengeluarkan itu…

Tapi, saya tetap menggaris bawahi bahwa semua ilmu pada dasarnya saling melengkapi satu sama lainnya. Ibarat cahaya yang merupakan satu kesatuan, di mana satu cahaya adalah bagian dari cahaya lainnya. Maka, ilmu pun seperti itu.

Kalau kita kembalikan ke zaman Nabi Muhammad SAW. Kita akan melihat bagaimana bijaksananya pengaturan “ilmu” dari para sahabat. Semuanya penting dan strategis, tidak ada satu sahabat pun yang merasa ilmunya lebih penting dari lainnya.

Zaid bin Tsabit misalnya, dia masyhur dengan ilmu baca-tulis. Hingga diberi kehormatan untuk menjadi juru tulis Nabi. Selain itu, Zaid pun mendapat penugasan untuk mempelajari bahasa Ibrani dan Suryani untuk membantu Nabi berdiplomasi dengan negara-negara tetangga. Artinya beliau sangat diandalkan untuk mengurus tugas administrasi keNabi-an, suatu posisi yang sangat terhormat bukan?

Abu Hurairah pun juga sangat penting. Sebagai salah seorang periwayat hadits terbaik dari zaman Nabi. Beliau rela hiduo bersama Nabi walau hanya dengan menjadi “pembantunya”. Dengan itu ilmu beliau dalam meriwayatkan hadits menjadi sangat mumpuni. Hingga tidak kurang lebih dari 8000 hadits diriwayatkan lewat beliau, Subhanallah…

Khalid bin Walid pun tidak ketinggalan. Nabi pun benar-benar menggunakan ilmu perangnya yang luar biasa. Tidak mengherankan jika beliau pun dijuluki sebagai Pedang Allah yang Terhunus. Subhanallah, dengan kemampuan sehebat itu beliau adalah salah satu panglima perang yang belum pernah merasakan kekalahan selama hidupnya.

Dan, masih banyak kasus lain yang memperlihatkan bagaimana semua ilmu itu penting. Dari sini saya melihat bahwa tiap ilmu punya kewenangannya sendiri. Setiap, ilmu punya spesialisasi yang pasti tidak dimiliki oleh ilmu lain. Oleh karena itu, wajar bila ada proses diferensiasi dari ilmu.

Ilmu yang kita miliki semuanya penting. Tidak ada yang tidak penting. Maka, dari itu tanggung jawab dari kita semua adalah bagaimana mempraktekkanya. Percuma kalau selama ini kita terus belajar setengah mati, namun baru bisa memamerkan lewat lisan.

Kawan, teruslah belajar dengan masing-masing ilmu yang kita ambil. Jangan iri terhadap ilmu orang lain, karena yakinlah bahwa mereka pun sebenarnya juga iri dengan apa yang kita capai.

Saling mengisi dengan ilmu masing-masing ya…:)

One thought on “Arogansi Ilmu, Pantaskah?

  1. fenomena yang unik….. sebagai pemilik ‘blog’ saya jadi terharu… (he2…)
    judul nya “pelantikan PK IMM UGM 2008-2009″…..
    tapi koment2 yg masuk justru ‘melenceng’…

    padahal baru 1 gambar ‘gedung’ saja, sudah bikin heboh….
    apalagi kalau saya tampilkan karya-karya arsitektur yang lain….
    saya ndak bisa membayangkan…he2…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s