Mempelajari Kehidupan di Perempatan Jalan

Sebenarnya ini postingan lama di blogku yang terdahulu (di friendster). Namun, berhubung ada seorang kawan yang juga membicarakan kepiluan hatinya melihat kondisi anak-anak jalanan. Maka, tidak ada salahnya jika posting ini aku revisi ulang.

Buat para pembaca, cerita ini telah berlangsung cukup lama. Tepatnya hampir 1 ½ tahun lalu, sekitar akhir tahun 2006 masa awal-awal kuliah di Yogya.

Saat itu malam hari sekitar jam 8, aku mencoba keluar untuk berjalan-jalan, maksudnya untuk menghilangkan kesuntukan di asrama. Tidak kusangka malam itu ada pengalaman menarik yang bisa kuambil hikmahnya nanti.

Sebenarnya, tujuan utamaku adalah bertandang ke kos kawan sekelasku di daerah Jalan Kaliurang (biasa disebut Jakal), kawanku itu bernama Adrian.

Dalam perjalanan, di pertigaan UIN Sunan Kalijaga, aku melihat ada seorang adik kecil yang meminta-minta pada seorang lelaki muda. Lama sekali dia hanya menengadahkan tangan dan kemudian hanya dicueki. Aku jadi iba, namun entah kenapa anak itu tidak mulai meminta kepadaku. Menjelang lampu mulai hijau, akhirnya kulihat lelaki itu mengambil dompetnya dan memberi sediktit tips buat adik itu. Sekilas aku melihat jaketnya berlogo Teknik mesin UGM. Jadi kupikir mesti dia anak UGM, senyumku sedikit mengembang melihat peristiwa itu.

Selanjutnya di perempatan jalan Colombo (Gejayan). Lagi-lagi, aku tertangkap lampu merah. Namun, sekali lagi ada pengalaman menarik. Ada adik kecil, masih balita yang terlihat mengamen di tengah keramaian kendaraan bermotor. Aku pun jadi teringat pada keponakan di Magelang. Keponakan yang sangat lucu, namanya Ilham, umurnya baru 4 tahun, tapi sangat gemuk bahkan aku pun sampai sulit membopongnya. Alhamdulillah, dia memiliki keluarga yang berkecukupan.

Hal ini beda jauh dengan pemandangan malam ini. Adik balita yang mengamen ini sangat kurus, bahkan aku melihat tidak ada keceriaan di matanya, keceriaan itu mungkin sirna karena kemiskinan yang membelitnya. Dan sambil menadahkan tangan kesana-sini dia akhirnya mendapatkan tips juga dari seorang pengendara kendaraan. Ahamdulillah, setelah mendapat tips aku melihat segurat senyum di wajahnya, malahan dia berjingkrak-jingkrakan bersama teman-temanya yang lain. Keceriaan yang ditukar hanya dengan beberapa keeping recehan, apakah ini adil?

Alhamdulillah, perjalanan ini membawa hikmah. Aku jadi tahu kalo kemiskinan dan kesengsaraan pada anak-anak balita bukanlah isapan jempol belaka, ini realita.

Sayangnya, aku masih belum bisa begitu ber-empati terhadap keadaan mereka.
Aku masih terlalu individualis dengan ‘berfoya-foya’ menikmati cukupnya keadaanku selama ini.

Dalam doaku untuk kalian anak-anak jalanan….

“Ya Allah, Jangan Jadikan Ekonomi Yang Lemah, Menjadikan Mereka Tanpa HidayahMu.”

Amien ya rabbal ‘alamin…

7 thoughts on “Mempelajari Kehidupan di Perempatan Jalan

  1. sedekah..
    sedekah mungkin salah satu yang bisa dilakukan..
    seengganya dengan senyum.. senyum adalah sedekah yang termurah..

    kadangkala, manusia perlu di kasih susah utk dapat merasakan kesusahan..

  2. Terkadang malah, pemerintah melarang masyarakat untuk memberikan sesuatu kepada orang-orang seperti itu. Tetapi anehnya, pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu orang-orang tersebut. Justru kebijakannya malah melahirkan orang-orang seperti itu.

  3. terlalu banyak cerita dan kisah pilu tentang ‘mereka’
    Tapi sedikit yang benar-benar membuat orang tersentuh lalu bergerak.
    (jzk atas apresiasinya..

  4. Kalo menurutku:
    kemiskinan memang realita. Dan untuk mengatasinya bukan dengan memberi anak-anak jalanan… Dengan memberi kita hanya mengajari mereka untuk senang meminta…

    Sepakat, saya juga tidak terlalu sepakat terus menerus memberi mereka tips. Tapi, harus ada mekanisme “penyantunan”, agar mereka tidak terus-menerus tertindas…

  5. eh, kmrn kajian tafsir kamis pagi ust. yun juga membahas masalah ini, lho….

  6. # Qolbi

    kemarin pagi juga kajian tafsir bareng ust. muhsin mbahas tafsir surat Al Ma’un…

    kita memang tidak bisa hanya baik utk diri sendiri, tapi harus baik juga utk orang lain…

  7. realitas ini nyata.di mana-mana seluruh ppelosok negeri.
    tapi ada yang kurang mendidik dari budaya bangsa kita.

    beberapa waktu lalu di Jawa Pos ada cerita seorang raja pengemis yang hidup mewah, mempunyai sebuah mobil CRV gress, dan 3 rumah mewah.
    dengan mengkoordinatori 50 orang pengemis, setiap hari tidak kurang dari 300 ribu masuk kantong, atau 9 juga setiap hari masuk kocek.

    benar-benar pengemis intrepeneur sejati

    dunia terbalik Pak,, inilah Indonesia… baik jadi buruk, buruk jadi baik,,,, bahkan di antara kegelisahan akan nasib pengemis yang terlunta2 masih ada yg pinter2nya ngambil kesempatan.. luar biasa (dzalimnya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s