2 Hari Mencari Duit

Judul blog di atas (bukan) bermaksud menyamakan dengan judul sebuah film Indonesia, 30 hari mencari cinta. Tetapi, murni ada berhubungan dengan perjuanganku selama 2 hari terakhir untuk mencari duit.

Alhamdulillah, selama libur panjang maulid nabi, paskah ditambah libur weekend sabtu-minggu aku bergabung dengan kegiatan teman-teman mereka. Yah, lucu kalau ditolak, berhubung lagi nganggur plus lagi pengen nyari kegiatan.

Kamis-Jumat kemarin, ada education expo di ex-sekolahku (SMA N 1 Magelang). Ini acara pameran promosi kampus untuk anak-anak SMA di Kota Magelang. Kegiatannya cukup ramai, karena panitia sanggup menghadirkan sekitar 11 PTN se-Jawa, seperti UGM, Undip, ITB, Unnes, UNS, UNY, Unsoed, dsb.

Berhubung ini pameran promosi kampus, sambil menyelam minum air tidak ada salahnya. Aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk jualan buku. Buku yang aku jual rata-rata berhubungan dengan ujian UM UGM dan SPMB. Maklum, sekarang lagi ramai-ramainya kelas 3 SMA fokus ke ujian akhir dan masuk perguruan tinggi.

Dan sedikit mengecewakan, buku daganganku hanya terjual 1 buah…

Maka dari itu, aku berniat menjualnya kembali di Pameran Buku Kota Magelang (semacam Book Fair kalau di Jogja). Di sana, Alhamdulillah teman-temanku di Karisma (Keluarga Remaja Islam Magelang) sedang membuka stan buku. Kesempatan yang tidak boleh dilewatkan tentunya. Dan aku pun memutuskan untuk menitipkan buku-bukuku di sini.

Harapanku tidak muluk-muluk, aku hanya berharap paling tidak bukuku ada yang laris. Akan tetapi, selain kondisi pameran yang sepi (banget). Mungkin, memang rezekiku yang belum sampai. Tidak bermasalah… karena hikmah yang aku dapatkan jauh lebih berarti.

Di sini aku melihat sendiri betapa masih miskinnya minat baca di Magelang. Bagaimana bisa, seminar yang diisi oleh Kang Abik dan Ataka Awalul Rizki (Novelis terkenal dari Yogya) dihadiri tidak lebih dari 30-an peserta, sangat sepi. Miris jika dibandingkan dengan ratusan orang yang hadir saat konser akustik-an Iwan Fals (jadi, ini bukan Iwan Fals yang datang tetapi hanya lagu-lagunya yang dimainkan secara akustik). Apakah ini juga pertanda tingkat intelektualitas di Magelang yang juga masih rendah? Wallahua’lam hanya Allah yang tahu.

Pertanyaanku, sampai kapan akan seperti ini ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s