Pemutaran Film “ADEUS, TIMOR LOROSAE!” di Metro TV

Eagle Awards adalah kompetisi tahunan film dokumenter tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Metro TV. Pada tahun 2011 ini, Alhamdulillah saya dan rekan saya Kurnia R. Dhani menjadi salah seorang peserta finalisnya. Kami berdua adalah mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada. Film dokumenter yang kami sutradarai adalah Adeus, Timor Lorosae!.

Adeus, Timor Lorosae! yang bermakna Selamat Tinggal, Timor Timur! adalah film yang bercerita tentang perjuangan hidup warga eks Timor-Timur selama 12 tahun terakhir di pengungsian. Cerita film ini berfokus pada kehidupan warga pengungsi di Kamp Pengungsian Naibonat, Kupang, lebih khusus lagi lewat cerita perjuangan seorang Fransisco ‘Sico’ Ximenes bersama warga sekitarnya yang berjuang menuju agar dapat hidup secara mandiri.

Lanjut…

Sejarah Singkat SD Muhammadiyah Kupang

Lama saya mencari sejarah SD kita yang tercinta ini, SD muslim pertama di Kupang, NTT. SD ini sarat dengan kenangan masa kecil, karena kenangan di masa kanak-kanak memang tidak pernah bisa terhapuskan. Beruntung, ketika ‘pulang kampung’ ke Kupang awal Mei 2011 kemarin saya mendapatkan buku berjudul “Kiprah Perjuangan Muhammadiyah NTT” tulisan Bapak Zainuddin Achied (Mantan Ketua Umum PW Muhammadiyah NTT). Di dalamnya ada beberapa bagian yang bercerita tentang SD kita ini. Bagian-bagian tersebut akan saya ceritakan ulang, khususnya mengenai SD Muhammadiyah.

SD Muhammadiyah di Kupang merupakan sekolah yang dirintis oleh H. Imran Usman pada tahun 1960-an. Ketika itu beserta TK ABA, SD Muhammadiyah menggunakan bagian dari rumah beliau di Kampung Solor. Ikhtiar pendirian sekolah tersebut kemudian diperkuat dengan hadirnya beberapa guru dari Jawa seperti M. Qisthian Anwar, Suyono dan Kasirun pada tahun 1967. Selanjutnya, TK ABA tetap menggunakan rumah H. Imran Usman sedangkan SD Muhammadiyah berada di gedung milik masyarakat Kampung Solor yang sekarang telah menjadi Gedung Kelurahan Solor. Gedung SD Muhammadiyah ketika itu kurang layak digunakan, karena berada di samping pasar Kampung Solor dan bila malam digunakan untuk gudang penampungan barang dagangan. Lanjut…

Nurcholish Madjid & M. Roem : Tidak Ada Negara Islam!

taken from goodreads.comJudul Buku                  : Tidak Ada Negara Islam (Surat-surat Politik Nurcholish Madjid – M. Roem)

Penyunting                 : Agus Edi Santoso

Penerbit                      : Djambatan (Jakarta, 1997)

Kata Pengantar          : Ahmad Syafii Maarif & Adi Sasono

Jumlah Halaman        : XXVII + 121 halaman

Sejak semakin intens mengerjakan skripsi, beberapa waktu belakangan, saya mencoba untuk mengisi weekend dengan beristirahat. Istirahat yang dimaksud bukan dengan jalan-jalan atau berwisata, melainkan dengan membaca buku-buku di luar tema skripsi (analisis wacana Liga Primer Indonesia di SCTV & Metro TV). Minggu ini, buku yang saya pilih untuk menemani weekend adalah Surat Menyurat antara Cak Nur (Nurcholish Madjid) dengan Pak Roem (M. Roem). Judulnya bombastis: Tidak Ada Negara Islam. Judul ini bisa jadi relevan untuk dibahas beberapa waktu terakhir, mengingat beberapa mahasiswa yang menghilang (konon) karena dicuci otaknya oleh NII (Negara Islam Indonesia). Dan, saya kira dengan membaca buku ini, saya (dan juga rekan-rekan) akan lebih terbuka dalam memaknai “Negara Islam” itu sendiri.

Tokoh besar memang tidak terlahir secara instan. Bisa jadi seluruh kehidupan mereka memang dihibahkan untuk memikirkan obyek perjuangan mereka. Bahkan dalam surat-menyurat yang sifatnya amat personal pun, kedua tokoh ini bisa membicarakan banyak permasalahan bangsa dan agama. Luar biasa! Lanjut…

Babies (2010) : Lucu, Tanpa Harus Berdialog

Di dunia nyata bayi (atau balita) adalah salah satu anugerah Allah yang paling luar biasa. Cobalah saat sedang suntuk, temui atau cukup lihatlah tingkah laku seorang bayi, niscaya akan ada hiburan tersendiri. Mungkin saja karena bayi masih bersih dari dosa, sehingga begitu enak untuk dipandang (#spekulasi).

Nah, bagi anda yang senang melihat bayi, ada film dokumenter dari Thomas Balmes yang menarik untuk ditonton, Babies. Film ini bercerita tentang 4 orang bayi, Ponijao dari Namibia, Mari dari Jepang, Bayar dari Mongolia dan Hattie dari Amerika. Dua bayi dari daerah perkotaan (urban), dua lainnya dari dari pedesaan (rural). Film ini bercerita tentang  4 bayi tersebut mulai dari dalam kandungan, hingga mencapai usia 1 tahun. Saya hanya bisa membayangkan, luar biasa lama tentu shootingnya. Lanjut…

Sepakbola dan Industri Media

Di era terkini, sepakbola sebagai bentuk olahraga semakin banyak dipengaruhi oleh berbagai kekuatan, seperti bisnis (sebagai sarana iklan dan promosi), pemerintahan (sebagai simbol ideologi nasionalisme) dan media massa (sebagai sarana untuk meningkatkan pembaca/pemirsa)[1].

Dalam hubungannya dengan media. Sebagai sebuah industri, sepakbola tidak bisa lepas dan melepaskan diri dari media. Ada hubungan mutualisme di antara keduanya. Sepakbola membutuhkan publisitas, sedangkan televisi butuh program yang memiliki rating tinggi. Kedua kepentingan ini nantinya akan bermuara pada keuntungan finansial bagi kedua pihak. Lanjut…

Sejarah Sepakbola Indonesia di Mata Najwa

Dalam rangka memperdalam materi skripsi saya tentang LPI vs PSSI. Saya pun mencari materi sejarah sepakbola Indonesia di internet. Sayang, sebagian besar hasil googling malah hanya tulisan sampah yang tidak jelas arahnya. Beruntung kawan saya Ardi Wilda memberi tahu bahwa Mata Najwa edisi 18 Januari 2011 membahas tentang Hikayat Bola bersama beberapa tokoh, seperti Sejarawan JJ Rizal, Asvi Warman Adam, Wartawan Senior Alwi Shahab, Budiarto Shambazy, dan masih banyak lagi.

Nah, bagi kawan-kawan yang ingin menontonnya. Silakan dibuffer video dari Youtube di bawah ini… :) Lanjut…

[SHARING] Analisis Wacana Kritis (Norman Fairclough)

Berhubung skripsi saya yang terbaru (setelah ganti judul) menggunakan analisis wacana. Saya pikir tidak ada salahnya untuk berbagi dengan kawan-kawan tentang analisis wacana. Di bawah ada rangkuman dari pembacaan saya terhadap literatur tentang AWK Fairclough.

Pertanyaan mendasar, apa itu Analisis Wacana Kritis?

Inti dari analisis wacana adalah teks. Analisis wacana mempelajari bagaimana kekuasaan disalahgunakan atau bagaimana dominasi serta ketidakadilan dijalankan dan direproduksi melalui teks (dalam praktiknya teks di sini bisa diartikan sebagai berita, puisi, lagu, video, dsb). Termasuk di dalamnya akan dipelajari pula bagaimana produksi wacana berlangsung dan relasi kuasa apa saja yang ada di belakangnya.

Bedanya dengan Analisis Isi?

Beda jauh, kawan. Dalam tradisi analisis teks, ada 2 perspektif dominan: kuantitatif dan kualitatif. Analisis isi cenderung kuantitatif, sistematis dan terukur. Sedangkan, analisis wacana (disamping analisis framing) sifatnya kualitatif, cenderung selektif dan interpretatif. Lanjut…