Misfit Abadi

Saya teringat perkataan dosen saya (Mas Nunung Prajarto) dalam perkuliahan Sistem Sosial Politik Indonesia beberapa tahun silam. Ketika itu Mas Nunung menyebut model kritikus yang “misfit”. Model ini tidak akan pernah cocok dengan siapapun yang sedang berkuasa/memimpin. Dia akan terus mengkritik, bahkan mencerca pemerintahan/kekuasaan yang ada. Seraya menyebut Muhtar Pakpahan sebagai contohnya.

Hari ini saya meneruskan pemahaman model kritikus tersebut, dengan berpikir bahwa kritikus model tersebut bukanlah mengkritik atas nama kepentingan umum, melainkan karena kepentingan ego-nya. Argumen yang dilontarkan si kritikus boleh jadi sangat rasional dan ilmiah. Tapi sebenarnya jauh di dalam hatinya, bukan perubahan yang dia inginkan, melainkan sebatas eksistensi dirinya yang sedang dia perjuangkan. Kata anak muda, yang seperti inilah yang disebut krisis eksistensi.

Ciri selanjutnya (yang saya kembangkan sendiri), bahwa si kritikus model ini sebenarnya juga tidak punya konsep apa-apa untuk perbaikan. Kalau konsep perbaikan saja tidak punya, apalagi visi untuk memimpin perubahan?! Sejak dari alam pikirnya, dia hanya bisa mengkritik, tindakan konkret baginya tidak lebih penting dari kritik itu sendiri. Kritik seakan-akan sudah menjadi element paling esensial dari perubahan.

Teringat kata-kata Pak Sus Budiarto (Psikolog UII), “Jika jadi anggota saja tidak baik, bagaimana bisa menjadi pemimpin yang baik.” Saat tidak punya jabatan struktural saja dia sudah bertindak dzalim, apalagi ketika dia punya jabatan esok? Ini bahaya laten, kawan…

Jadi, yang saya ingin katakan di sini ada dua:

Pertama, jadilah kritikus yang adil. Nilailah sesuatu yang proporsional. Silakan mengkritik secara pedas, tapi siapkan juga konsepsi perbaikan yang konkret. Kalau perlu, bahkan harus, siapkan diri juga untuk ikut merubah bersama-sama. Bukan sebatas terlibat urun rembug.

Kedua, menjadi kritikus adalah tugas yang mulia bila dilakukan dengan semangat perubahan. Oleh karena itu, jangan pernah takut akan dibenci oleh lingkungan sekitar. Saat sudah memilih untuk bersuara. Saat itu pula, harus siap akan resiko yang ada. Jangan mencoba mengeluh, apalagi menyalahkan orang lain…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s