Manusia dan Kehidupannya

Memilih Jalan“Berusahalah untuk duniamu, seakan-akan kau akan hidup selamanya. Dan, berusahalah untuk akhiratmu seakan-akan kau akan mati esok.”

Tiap manusia memiliki pandangan tersendiri akan kehidupannya. Pandangan itulah yang dia gunakan untuk mengarungi hidupnya. Ada pandangan hidup yang baik, namun tak jarang pula banyak pandangan hidup bathil yang justru kini mewabah.

Dalam sebuah kajian pagi, bersama ustadz favorit saya, Ustadz Yunahar Ilyas, beliau bercerita tentang Pandangan Hidup  Muslim. Sepengetahuan saya, cerita ini beliau rangkum dari bukunya Tipologi Manusia dalam Al Qur’an (Terbitan dari Labda Shalahuddin). Kawan-kawan, ada yang mau?? Di pondok saya itu digratiskan loh.

Nah, menurut hemat beliau setidaknya ada beberapa tipologi pandangan hidup manusia.  Dari yang baik  sampai yang buruk sekalipun ada. Pertama, adalah tipologi yang meyakini kematian, akan tetapi menafikan akhirat. Ini merupakan pandangan hidup materialisme, yang melihat sesuatu hanya akan berakhir di dunia dan akhirat hanyalah fatamorgana. Oleh karena itu, dari pandangan materialisme  ini pula muncul turunan-turunannya yang begitu mengagungkan kehidupan dunia dan menafikan adanya hari pembalasan kelak.

Kedua, menafikan dunia dan ingin langsung bertemu dengan Tuhan. Menurut Ust. Yunahar tipe ini bisa dilihat dari kehidupan para sufi, mereka yang begitu mencintai Tuhannya, sehingga pada tahapan tertentu tidak ingin lagi berlama-lama di dunia ini. Atau dalam bahasa yang  senada, menurut Buya Syafi’i Ma’arif ini adalah Teologi Maut. Yaitu orang-orang yang begitu cinta akan kematian, namun takut akan kehidupan. Tak mengherankan, teologi ini pula yang menyuburkan terorisme di negeri ini menurut Buya.

Kedua pandangan hidup di atas bukanlah pandangan hidup kaum muslim. Karena bagi seorang muslim ada pandangan hidup yang jauh lebih paripurna, yaitu pandangan hidup ketiga. Pandangan hidup seorang muslim adalah pandangan yang tawasuth (setimbang) antara dunia dan akhiratnya seperti yang disebutkan dalam hadits Rasulullah, “Berusahalah untuk duniamu, seakan-akan kau akan hidup selamanya. Dan, berusahalah untuk akhiratmu seakan-akan kau akan mati esok.” Atau dalam hadits berbeda, Rasulullah pernah menyatakan bahwa walaupun esok hari kiamat akan datang, dan di tanganmu ada sebiji kurma. Maka, tanamlah!

Seharusnya memang seperti itulah pandangan hidup seorang muslim. Seorang muslim tidak hanya tinggal di dunia saja, atau sebaliknya hanya akan tinggal di akhirat belaka. Namun, keduanya amat berhubungan. Apa yang dikerjakan oleh manusia di dunia adalah tabungannya menuju surgaNya.

Maka teruslah bekerja demi surgaNya! Seperti apa yang disampaikan oleh Rasulullah pada istrinya selepas menerima amanah dakwah, “la roohata ba’dal yaum ya khodijah” (Tidak ada istirahat setelah hari ini, Khodijah…). Fastabiqul Khoirot saudaraku!

3 comments so far

  1. Maey Moon on

    sepakat, fastabiqul khoirot. .!

  2. M. TAHRIR ADNAN on

    Tulisan nanda cukup bagus, tetapi akan lebih lengkap lagi kalau tulisan nanda ini dilengkapi dengan makna yang terkandung dalam penggalan surat al-qashash pada ayat yang ke 77. (Surat yang ke 28). Silahkan dicek isinya.

  3. lulukria on

    bukunya dikasih gratis? mauu..!!!

    kalau utk kamu ada biaya antar, Luk.. hehe


Leave a reply