Catatan Kecil Diskusi Gerakan Mahasiswa Islam
Hari Senin (18/4) diadakan diskusi antar gerakan mahasiswa Islam di UGM. Diskusi yang awalnya saya pikir akan sepi (karena begitu minim publikasi cetak), justru secara tak terduga dihadiri oleh peserta yang berjubel. Bahkan, ruang seminar FISIPOL (yang notabene berkapasitas ± 100 orang) tak mampu menampung kelebihan kapasitas peserta tersebut.
Hmm… mungkin inilah kekuatan terselubung dari jaringan mahasiswa gerakan. Kita memang tidak perlu gembar-gembor publikasi, karena jaringan komunikasi “below the line” yang akan beraksi.
Nah, diskusi ini merupakan kelanjutan dari penulisan buku bersama berjudul “Dinamika Gerakan Mahasiswa Islam” yang ditulis oleh perwakilan 9 pergerakan dan organisasi Islam di Kampus. Pergerakan dan organisasi Islam itu antara lain: HTI, FOSDA, HMI-DIPO, HMI-MPO, KAMMI, IMM (gerakanku), PMII, Jamaah Shalahuddin, dan Jaringan Islam Kampus (JARIK). Dan, minus perwakilan dari JS, praktis semua perwakilan gerakan dan organisasi tersebut hadir pada diskusi kemarin untuk memberikan pemaparan.
Ternyata, diskusi ini memang lebih fokus pada profil organisasi masing-masing. Sedikit berbeda dengan harapan saya memang. Namun, memang itu lah isi buku tersebut. Walhasil, satu per satu perwakilan menjelaskan secara singkat profil gerakan atau organisasi masing-masing. Bagi saya dua hal yang menarik adalah, pertama, kehadiran Pak Eko Prasetyo selaku moderator. Beliau memang terkenal dapat membuat suasana forum apapun bergejolak (karena mampu hadir dengan guyon khasnya, yang seringkali asal ceplos). Selain itu, statemen dari rekan-rekan JARIK pun amat menarik bagi saya. Karena bagi saya mereka amat berani keluar dari mainstream gerakan lain. Di saat gerakan lain mengusung isu Islam sebagai suatu hal yang paripurna (baik secara substansial maupun yang hanya secara kemasan), mereka justru mendekonstruksi itu. Ya apalagi kalau bukan karena misi SEPILIS a.k.a. Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme yang mereka bawa.
Kalau mereka saja berani mengatakan hal yang “tidak benar”. Lalu kenapa kita harus takut mengatakan kebenaran?
Wallahua’lam, saya memang speechless untuk menghantam argumen-argumen mereka. Namun, saya bersepaham dengan Immawan Aris (Ketua Umum IMM UNY) untuk tidak bersimpati sedikitpun dengan pemaparan mereka. Lha, gimana lagi? Jelas ini sudah menyalahi aqidah kita sebagai seorang muslim. Seorang muslim harusnya meyakini bahwa Islam adalah agama yang benar, bukan paling benar. Karena sederhananya, bila semua agama itu dibenarkan maka secara otomatis tak ada yang namanya kebenaran itu sendiri. Nah, yang nanti perlu diperdebatkan itu bagaimana batasan kita berbuat baik terhadap non-muslim. Bukan, kebenaran Islam itu sendiri.
Alhamdulillah. di akhir diskusi ada seorang akhwat HTI yang memberikan komentar pedas akan pemikiran JARIK tersebut. Di situ dia menggunakan analogi sederhana tentang “kebenaran”. Bahwa kebenaran adalah suatu hal yang mutlak, bukan relatif. Kalaupun masih relatif maka masih ada porsi kebenaran intersubjektif yang diyakini oleh orang kebanyakan. Akan tetapi, saya berpikir bahwa sebenarnya ada kebenaran yang lebih essensial lagi yaitu kebenaran dalam perspektif Islam yang bersumber dari Al Quran dan Sunnah. Jadi, kita boleh saja mengutip referensi dari barat. namun jangan sampai kita terlalu mengagung-agungkan referensi tersebut, menganggapnya ilmiah, dsb. Sedangkan, di saat lain rujukan dari Al Quran, begitu kita sepelekan. Tidak adil bukan??
Alhamdulillah, dari diskusi ini, saya jadi yakin bahwa apapun gerakannya. Kita punya modal yang sama sebagai muslim, yaitu: fastabiqul khoirot. Dimana kita semua berkewajiban untuk untuk terus berlomba dalam berbuat kebajikan, kapanpun dan dimanapun itu. Setuju kawan-kawan?
Terus membaca, terus menulis, terus berdiskusi! LEDAKKAN!!
2 comments so far
Leave a reply




Memang beresiko mengatakan kebenaran yg menyakitkan orang….
Maju terus…kibarkan semangat idealism yg ada….
Itukan penelitian Desertasi, BTW apa ya goal desertasinya!!!!!
Kok meneliti gerakan-gerakan Islam kampus/mahasiswa.