Sepahit Topi Miring

Judul yang nyentrik bukan? Ini memang bukan judul yang saya buat sendiri, melainkan hanya saya kutip dari judul puisi Romo Sindhunata. Sebenarnya, judul ini saya potong, karena lengkapnya berbunyi CINTAMU SEPAHIT TOPI MIRING.

Bagi saya, puisi ini amat ambigu maknanya. Sulit memang untuk langsung menafsirkan apa maksud Romo Sindhunata dari puisi ini. Namun, secara sekilas puisi ini bercerita tentang Ranto Gudel, seorang tokoh yang diceritakan mencari cinta.

Lihat saja sebait kutipan dari puisi ini. Begitu implisit bukan maknanya?

“Senja di desa baron

Matahari tenggelam dalam kemaron

Lembu betina lari melompat-lompat

Dikejar-kejar anaknya yang kecil meloncat

Senja lucu dengan kasih sayang ibu dan anak

Langit senja mengandung sapi beranak

Terpesona ranto gundel, sang pelawak….”

Yang menarik, puisi ini juga diangkat menjadi lagu oleh grup hip-hop Jahanam (grup ini dulu pernah beken dengan lagunya Tumini). Penasaran bukan dengan puisi, dan juga lagunya? Mending cari aja Mp3nya, atau bisa juga mencari puisi itu di buku kumpulan puisi Sindhunata: Air Kata-kata.  Selamat mencari… !! hehehe

Namun, satu hal, pernyataan cintamu sepahit topi miring itu bagi saya bermakna subyektif dan empiris. Saya sendiri amat percaya bahwa meskipun pahit, sampai kapan pun akan ada cinta yang ingin kita kecap meski sekejap.

3 comments so far

  1. yayak84 on

    cinta yang universal, bukan hanya monopoli pasangan pecinta

  2. zulva on

    ha ha ha..
    cintamu sesegar vodka, mension, red label, dll

    Lah, ini malah pamer minuman keras…

  3. deka on

    yo yo yo… what’s up… rada ngerap dikit mungkin ok…


Leave a reply